Setelah sebulan, malam dan siang betemu. Mereka berdua juga bertemu
al-qur’an, masjid, para pakaian juga makanan. Mereka berkumpul bersama perut,
tangan, kaki dan mulut. Mereka kemudian bercerita satu-persatu. Cerita mereka adalah
tentang satu bulan yang telah lalu.
Malam mengawali cerita “Bulan lalu, aku ramai. Ramai oleh manusia. Manusia
banyak melakukan aktifitas sejak aku datang. Manusia melakukan aktifitas
masing-masing ada yang sampai aku akan bergantian dengan kamu.”
Kemudian siang melanjutkan cerita “Sejak aku datang menggantikan
kamu, suasana mulai tenang. Walaupun para manusia masih melakukan aktifitas,
tapi aktifitas mereka tidak seramai pada bulan-bulan yang lain. Mereka lebih
banyak tidur. Karena tidur mereka –pada bulan lalu- dapat bernilai ibadah.”
Sejenak berhenti, al-qur’an bercerita setelahnya ”Aku lebih sering
dibaca dan diperdengarkan. Pagi, sore hingga malam mereka banyak membacaku. Mereka
lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan membaca diriku. Tapi sekarang, tidak
seperti bulan lalu.”
Para pakaian juga selanjutnya. Dari golongan busana muslim
bercerita “Kami beserta teman-teman yang sejenis dengan kami banyak dipakai manusia
untuk beribadah, mereka lebih banyak menutup aurat daripada di bulan-bulan
lain. Sekarang, sepertinya sama dengan bulan-bulan lain. Manusia tetap saja
memakai jenis kami yang tidak bisa digunakan untuk menutup aurat.”
Masjid mendapat giliran berikutnya “Kalau aku bulan lalu lebih
ramai dari sebelumnya. Saat pagi, sore dan malam manusia mendatangiku lebih
banyak dari biasanya. Mereka berbondong-bondong untuk melakukan serangkaian
kegiatan beribadah bersama-sama. Aku saat itu merasa senang sekali sebulan lalu.
Tapi sekarang, tidak lagi.”
Makanan juga bercerita tentang bagaimana sebulan lalu. “Kami banyak
dibagi-bagikan untuk kebersamaan. Saat matahari tenggelam, banyak manusia membagi-bagikan
kami ke sesamanya yang membutuhkan atau untuk sebuah kebersamaan jam awal
diperbolehkannya mulut terisi. Sunggu indah bulan lalu. Namun sekarang, entah.”
Dari anggota tubuh, perut membuka cerita “Pada bulan lalu, aku bisa
beristirahat dahulu. Aku lebih santai karena aku baru terisi mulai tenggelamnya
matahari hingga fajar tiba. Sedangkan pada bulan-bulan yang lain aku bekerja
penuh selama siang dan malam, termasuk
pada bulan ini.”
Tangan berikutnya yang bercerita “Aku dan saudaraku itu banyak
bergerak untuk memberikan sedekah seperti ta’jil berupa makanan ringan atau
minuman dan sebagainya. Kuberikan juga senilai uang ke kotak amal, pakaian juga
kuberikan, dan berbagai barang-barang yang berguna. Aku juga lebih sering memegang qur’an untuk dibaca banyak manusia. Sekarang
aku sibuk untuk bermacam-macam hal lain, entah itu baik atau tidak. Aku lebih
lelah sekarang.”
Cerita selanjutnya yaitu dari kaki “Kami berdua sering sekali
digunakan melangkah ke tempat-tempat beribadah, seperti musholla atau masjid. Kami
melangkah bergantian dengan riang gembira karena langkah kami untuk beribadah
diberi pahala yang berlipat ganda. Itu hanya terjadi di bulan lalu, bukan bulan
yang lain.”
Mulut menjadi peserta cerita dari anggota tubuh yang terakhir “Aku
lebih terjaga dari hal-hal yang tidak berguna seperti omongan-omongan manusia
yang menceritakan hal-hal buruk manusia lainnya. Aku merasa senang dengan
ucapan ucapan baik yang keluar dariku. Aku juga terasa segar karena aku banyak
digunakan untuk membaca ayat-ayat suci. Itu pun juga ada di bulan lalu. Betapa menyenangkan
bulan lalu. Aku ingin setiap bulan seperti bulan lalu”
Suasana
menjadi hening. Mereka masih ingat bagaimana indahnya bulan lalu. Bulan lalu
begitu meriah oleh kebaikan. Kebaikan seperti lautan yang tumpah di daratan. Di
daratan maupun di lautan berlimpah-ruah kebaikan. Tidak peduli walau ada
beberapa manusia di sana malah menjadi kejam, padahal setan sudah dibelenggu. Kebaikan
demi kebaikan dilipatgandakan. Ya, itu bulan lalu dan ini cerita-cerita
penuturan dari beberapa makhluk. Siapa ingin bercerita bulan lalu lagi ?
