Sabtu, 02 Agustus 2014

Siapa Ingin Bercerita Bulan Lalu Lagi ?




Setelah sebulan, malam dan siang betemu. Mereka berdua juga bertemu al-qur’an, masjid, para pakaian juga makanan. Mereka berkumpul bersama perut, tangan, kaki dan mulut. Mereka kemudian bercerita satu-persatu. Cerita mereka adalah tentang satu bulan yang telah lalu.
Malam mengawali cerita “Bulan lalu, aku ramai. Ramai oleh manusia. Manusia banyak melakukan aktifitas sejak aku datang. Manusia melakukan aktifitas masing-masing ada yang sampai aku akan bergantian dengan kamu.”
Kemudian siang melanjutkan cerita “Sejak aku datang menggantikan kamu, suasana mulai tenang. Walaupun para manusia masih melakukan aktifitas, tapi aktifitas mereka tidak seramai pada bulan-bulan yang lain. Mereka lebih banyak tidur. Karena tidur mereka –pada bulan lalu-  dapat bernilai ibadah.”
Sejenak berhenti, al-qur’an bercerita setelahnya ”Aku lebih sering dibaca dan diperdengarkan. Pagi, sore hingga malam mereka banyak membacaku. Mereka lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan membaca diriku. Tapi sekarang, tidak seperti bulan lalu.”
Para pakaian juga selanjutnya. Dari golongan busana muslim bercerita “Kami beserta teman-teman yang sejenis dengan kami banyak dipakai manusia untuk beribadah, mereka lebih banyak menutup aurat daripada di bulan-bulan lain. Sekarang, sepertinya sama dengan bulan-bulan lain. Manusia tetap saja memakai jenis kami yang tidak bisa digunakan untuk menutup aurat.”
Masjid mendapat giliran berikutnya “Kalau aku bulan lalu lebih ramai dari sebelumnya. Saat pagi, sore dan malam manusia mendatangiku lebih banyak dari biasanya. Mereka berbondong-bondong untuk melakukan serangkaian kegiatan beribadah bersama-sama. Aku saat itu merasa senang sekali sebulan lalu. Tapi sekarang, tidak lagi.”
Makanan juga bercerita tentang bagaimana sebulan lalu. “Kami banyak dibagi-bagikan untuk kebersamaan. Saat matahari tenggelam, banyak manusia membagi-bagikan kami ke sesamanya yang membutuhkan atau untuk sebuah kebersamaan jam awal diperbolehkannya mulut terisi. Sunggu indah bulan lalu. Namun sekarang, entah.”
Dari anggota tubuh, perut membuka cerita “Pada bulan lalu, aku bisa beristirahat dahulu. Aku lebih santai karena aku baru terisi mulai tenggelamnya matahari hingga fajar tiba. Sedangkan pada bulan-bulan yang lain aku bekerja penuh selama siang dan malam,  termasuk pada bulan ini.”
Tangan berikutnya yang bercerita “Aku dan saudaraku itu banyak bergerak untuk memberikan sedekah seperti ta’jil berupa makanan ringan atau minuman dan sebagainya. Kuberikan juga senilai uang ke kotak amal, pakaian juga kuberikan, dan berbagai barang-barang yang berguna. Aku juga lebih sering  memegang qur’an untuk dibaca banyak manusia. Sekarang aku sibuk untuk bermacam-macam hal lain, entah itu baik atau tidak. Aku lebih lelah sekarang.”
Cerita selanjutnya yaitu dari kaki “Kami berdua sering sekali digunakan melangkah ke tempat-tempat beribadah, seperti musholla atau masjid. Kami melangkah bergantian dengan riang gembira karena langkah kami untuk beribadah diberi pahala yang berlipat ganda. Itu hanya terjadi di bulan lalu, bukan bulan yang lain.”
Mulut menjadi peserta cerita dari anggota tubuh yang terakhir “Aku lebih terjaga dari hal-hal yang tidak berguna seperti omongan-omongan manusia yang menceritakan hal-hal buruk manusia lainnya. Aku merasa senang dengan ucapan ucapan baik yang keluar dariku. Aku juga terasa segar karena aku banyak digunakan untuk membaca ayat-ayat suci. Itu pun juga ada di bulan lalu. Betapa menyenangkan bulan lalu. Aku ingin setiap bulan seperti bulan lalu”
Suasana menjadi hening. Mereka masih ingat bagaimana indahnya bulan lalu. Bulan lalu begitu meriah oleh kebaikan. Kebaikan seperti lautan yang tumpah di daratan. Di daratan maupun di lautan berlimpah-ruah kebaikan. Tidak peduli walau ada beberapa manusia di sana malah menjadi kejam, padahal setan sudah dibelenggu. Kebaikan demi kebaikan dilipatgandakan. Ya, itu bulan lalu dan ini cerita-cerita penuturan dari beberapa makhluk. Siapa ingin bercerita bulan lalu lagi ?