Setelah sholat Jum’at ia mengirim
pesan via SMS kepada temannya yang mengajaknya bermain futsal. Namun tak ada balasan.
Ia masih ragu apakah futsal ini jadi atau tidak ?. Jika jadi, ia tidak pulang
ke rumah tetapi ia langsung menuju tempat kursus setelah bermain futsal yaitu
pukul delapan malam. Futsal sebelumnya dimulai pukul delapan. Namun Slamet
meminta dimulai lebih awal agar ia bisa ikut bermain futsal dan tidak
meninggalkan jadwal kursusnya. Jadi walaupun target pertama tidak terlaksana,
target kedua bisa ia usahakan.
Slamet lapar dan kebetulan temannya
mengajaknya makan. Ia pun menuruti ajakannya karena mungkin saja ketika makan
SMSnya tentang kepastian futsal dibalas. Saat akan berangkat makan, Slamte teringat
jaketnya ada yang kebesaran. Ia ingin mengecilkan ukurannya. Ia menawari
temannya juga apakah mau mengantarkannya mengecilkan ukuran jaket. Temannya
menyetujui tawarannya. Maka berangkatlah mereka berdua untuk mengecilkan jaket
kemudian makan siang.
Ketika mengecilkan jaket, Slamet mengira
permintaan jaket tersebut bisa ditinggal terlebih dahulu. Barangkali si
penjahit masih sibuk dengan banyaknya pesanan. Ternyata si penjahit menangani langsung jaket Slamet dan menyuruhnya
untuk menunggu. Sekitar satu jam lebih jaket itu dikerjakan. Kemudian mereka
berdua makan siang bersama di warung dekat kampusnya. Setengah tiga siang mereka berdua selesai
makan siang. Setelah sampai kembali di kamar kos temannya, ia menyambungkan
charger HP untuk mengisi daya karena HP-nya lowbatt. Slamet menunggu
pengisian daya baterai HP sambil tidur-tiduran. Tak terasa Slamet ketiduran
sampai jam setengah enam dan belum sholat ashar. Ia terbangun tapi kepalanya
pusing. Setelah sholat ia kemudian merebahkan diri di atas kasur hingga
maghrib.
Setelah maghrib ternyata turun hujan.
Slamet menunggu hujan lumayan reda sampai jam tujuh. Jam tujuh seharusnya ia berangkat bermain futsal. Tapi ia
tetap berada di dalam kamar. Ia berada di dalam kamar sampai jam delapan. Seharusnya jam delapan ia
ada janjii untuk mengisi kursus bahasa Arab. Namun, ia batalkan dengan alasan hujan
masih belum reda. Ia tetap di kamar kos temannya tanpa ada kegiatan berarti. Hingga
malam berlalu Slamet tetap berada di kos temannya.
Di atas kasur, ia bergumam “Batal
semua target dan deadline. Target pertama pulang, gagal. Target kedua
mengisi kursus, gagal. Ajakan futsal juga gagal. Aku mengecewakan banyak orang.
Keluargaku yang ada di rumah, adek-adek kelasku yang membutuhkan ilmu dalam
kursus, serta teman-teman yang mengajak futsal dan aku mengecewakan mereka
padahal aku yang meminta waktunya dimajukan”. Sebenarnya, apa yang menyebabkan
target-target ini tidak terlaksana semua ?