Konsep modeling yang dicetuskan oleh Bandura ternyata dalam
Islam telah ada sejak dulu. Bandura adalah seorang tokoh psikologi di era abad
ke-20 ini. Bandura mencetuskan teori belajar sosial. Ada beberapa konsep yang
dilahirkan oleh ilmuwan ternama ini. Salah satu diantaranya yaitu konsep modeling. Modeling merupakan
belajar melalui observasi dengan menambahkan atau atau mengurangi tingkah laku
yang teramati dengan melibatkan proses kognitif. Secara singkat, modeling adalah
menirukan perilaku yang diperagakan oleh orang atau objek yang dijadikan model.
(role model). Selain istilah modeling ,ada istilah yang serupa
yaitu imitasi. Namun antara keduanya mempunyai perbedaan yang signifikan. Perbedaan
yang jelas diantaranya adalah adanya proses kognitif yang ada dalam modeling,
berbeda dengan imitasi yang tidak ada proses kognitif di dalamnya.
Menurut Bandura,
perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri (kognitif) dan
lingkungan. Bandura melukiskan Teori Belajar Sosial berusaha menjelaskan
tingkah laku manusia dari segi interaksi timbal-balik yang berkesinambungan
antara faktor kognitif, tingkahlaku, dan faktor lingkungan. Dalam proses
determinisme timbal-balik itulah terletak kesempatan bagi manusia untuk
mempengaruhi nasibnya maupun batas-batas kemampuannya untuk memimpin diri
sendiri (self-direction). Konsepsi tentang cara manusia berfungsi semacam ini
tidak menempatkan orang semata-mata sebagai objek tak berdaya yang dikontrol
oleh pengaruh-pengaruh lingkungan ataupun sebagai pelaku-pelaku bebas yang
dapat menjadi apa yang dipilihnya. Manusia dan lingkungannya merupakan
faktor-faktor yang saling menentukan secara timbal balik (Bandura, 1977)
Salah satu yang
dicetuskan oleh Bandura adalah modeling. Setiap perilaku individu adalah hasil
dari observasi (pengamatan) sebelumnya. Dari pengamatan tersebut, individu
memperoleh contoh bagaimana membuat suatu perilaku tertentu. Agar modeling
ini bisa efektif, ada bebrapa hal yang diperlukan untuk modeling yaitu:
Atensi (perhatian). Bagi seorang
individu untuk belajar sesuatu, ia harus memperhatikan fitur dari perilaku yang
dimodelkan. Termasuk kekhasan, afektif valensi, prevalensi, kompleksitas, nilai
fungsional. Karakteristik seseorang (kapasitas sensoris misalnya, tingkat gairah,
mengatur persepsi, penguatan sebelumnya) juga mempengaruhi perhatian.
Retensi (ingatan). Individu
harus mampu mengingat detail dari perilaku untuk belajar dan kemudian
mereproduksi perilaku. Termasuk pengkodean simbolis, gambaran mental, kognitif
organisasi, latihan simbolis, latihan motorik.
Reproduksi. Dalam mereproduksi perilaku, seseorang harus
mengatur tanggapan nya sesuai dengan perilaku model. Kemampuan ini dapat
ditingkatkan dengan praktek.
Motivasi. Memiliki motif dasar yang baik untuk meniru.
seperti harapan masa lalu (behaviorisme tradisional), menjanjikan (insentif
yang dibayangkan) dan perwakilan (melihat dan mengingat model yang patut
ditiru)
Beralih ke imitasi, imitasi merupakan konsep bagian
dari operan conditioning untuk menjelaskan bagaimana individu merespon stimulus
yang datang kepadanya. Imitasi merupakan bagian dari conditioning
tersebut. Di dalam konsep imitasi, tidak ada proses mental yang terjadi. Pengulangan
yang dilakukan merupakan bentuk penguatan terhadap terjadinya respon, tanpa
disertai dengan aspek pengolahan kognisi dan kesadaran individu.
Imitasi sering mengambil contoh mengenai
seorang anak yang memakai sepatu berhak tinggi dan lipstick milik ibunya dan
berjalan sambil membawa tas. Hal ini merupakan bentuk imitasi. Anak ini melihat
bagaimana ibunya melakukan hal tersebut. Ada stimulus visual yang memancing
dirinya untuk tertarik melakukan hal yang serupa. Semakin sering ia melihat
ibunya berdandan, semakin ketertarikannya bertambah kuat dan mencoba hal yang
sama. Ia melihat bagaimana cara pemakaian benda-benda tersebut, tanpa mengerti
makna perilaku tersebut oleh karena tidak terjadi proses kognisi aktif.
Bedanya dengan modeling, modeling
justru menekankan adanya proses kognisi dalam meniru perilaku model. Itulah
sebabnya Bandura menamai teorinya “Social Cognitive Learning”. Artinya
ada proses kognitif aktif yang terjadi pada subjek. Ia melihat dan
memperhatikan dengan seksama (atensi), lalu ia mengingat dan memproduksinya di
dalam struktur kognisinya (retensi). Ia merenungkan dan membentuk kesan . Pada
tahap ini, terjadi proses evaluatif. Artinya, bisa jadi suatu hal berkesan pada
dirinya, namun ia tidak menirunya karena alasan-alasan tertentu. Bisa saja ia
telah belajar sesuatu dari apa yang diamatinya tanpa harus mengalaminya, dimana
Bandura menyebutnya “vicarious learning”. Tahap berikutnya adalah
reproduksi motor. Artinya, subjek memutuskan untuk menirunya atas dasar
keuntungan-keuntungan yang ia telah pertimbangkan ketika memproduksi perilaku
tersebut. Adanya reward dan feedback akan memperkuat terjadinya
perilaku tertentu.
Perbedaan antara
imitasi dan modeling yang telah dijelaskan, ternyata terdapat pula dalam
ajaran Islam. Di dalam Islam, imitasi disebut taqlid dan modeling disebut
uswah. Keduanya juga mempunyai perbedaan sama halnya dengan perbandingan
imitasi dan modeling.
Taqlid adalah
kata berebahasa Arab yang berasal dari kata dasar qollada yang mempunyai
arti yaitu meniru. Ketika seseorang melakukan sesuatu tanpa dasar dan tanpa
proses seperti halnya yang dikemukakan dalam modeling, maka itu adalah taqlid.
Jadi pada taqlid tidak ada proses mental atau kognisi akti dari individu.
Berbeda halnya
dengan konsep uswah. Uswah adalah kata berabahasa Arab yang
mempunyai arti teladan. Kata uswah ini sering dikaitkan dengan
tokoh-tokoh besar. Dalam proses uswah, individu tidak harus mendapati
langsung perilaku tersebut dari role model atau objek yang akan ditiru. Namun,
indiviu bisa melakukannya melalui perantara sama halnya dengan tahap dalam modeling.
Salah satu
konsep modeling yang tetap bertahan sampai saat ini di kalangan umat
Islam adalah uswatun hasanah. Mayoritas umat Islam melakukan ritual
ibadah dan berbagai perilaku (dalam bahsa Arab disebut akhlaq) melalui uswah
chasanah (teladan yang baik). Walaupun orang yang menjadi memberi contoh (role
model) sudah lama meninggal dan tidak bertemu langsung dengan mereka, tapi
karena perantara dari para ilmuwan penyebar agam Islam yang kuat menjadikan uswah
chasanah ini tetap lestari hingga saat ini.
Dari penjelasan
yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa perbedaan modeling imitasi
adalah adanya proses kognitif pada modeling tapi tidak ada dalam
imitasi. Konsep modeling dan imitasi serta perbedaannya yang ada pada
teori psikologi milik Bandur juga ada pada ajaran Islam yaitu taqlid dan
uswah. Taqlid dalam psikologi disebut imitasi sedangkan uswah dalam
psikologi disebut modeling.