Kamis, 30 Juli 2015

Pengakuan (maaf) atas HTQ




#part 3
 “Oke, kita minggu depan berangkat untuk menentukan perjalanan kita selama masa khidmah ini” seruku pada teman-teman. Aku yang baru tahu dan mengenal para pasukan penjaga kitab suci Islam sepanjang zaman mulai memimpin mereka untuk sebuah perkumpulan penting yang akan menentukan langkah kita. Aku berprinsip seperti halnya sandal jepit, kita berjalan bersama beriringan untuk terus mengayunkan kedua kaki  bergantian kanan-kiri seirama dengan indah.
Perkumpulan dalam sebuah kelompok itu memang penting karena ini adalah kepentingan bersama, jadi tak bisa aku memutuskan suatu program atau kegiatan sendirian menurut egoku. Itu adalah kesalahan yang akan berimbas pada banyak orang. Setiap perkumpulan selalu ada kemoloran, itu yang membuatku sedikit jengkel. Namun aku berusaha untuk bertanggung jawab atas kemoloran itu. Awalnya aku bahkan tega mengejek mereka ‘lemot’ karena mereka molor hingga lima puluh menit. Namun ejekanku itu tak seimbang, aku berusaha untuk memotivasi mereka dan pada perkumpulan-perkumpulan setelahnya aku terus memotivasi mereka hingga waktu molor dalam memulai perkumpulan hanya lima menit.
Setiap perkumpulan menghasilkan kesepakatan untuk menjalankan amanah program-program dan kegiatan-kegiatan. Banyak inovasi, improvisasi yang tentunya disertai dengan komitmen dan konsistensi. Itu semua berkat semangat dan kerjasama antar anggota yang mewujudkan istilah ‘kompak’ bagi mereka.  Jogja menjadi saksi perjalanan besar kita untuk menjelajahi bumi Qur’an yang ada di daerah istimewa yang kental budaya itu. Berbagai cerita kebersamaan terjalin setiap langkah dalam satu visi yaitu Al-Qur’an. Perjalanan dan petualangan kecil menjelajahi alam untuk sekedar penyegaran setelah rutinitas kerja keras dalam menjalankan bermacam program kegiatan Qur’any dan pentingnya yaitu mempererat kebersamaan.

 









Terima kasih atas etos kerja kalian yang tinggi dan kesediaan kalian dalam melangkah bersama dan berjalan dengan indah. Dari pantai hingga air terjun adalah saksi alam dan dari setoran rutin selembar hingga sema’an 30 Juz adalah bukti kecintaan kita kepada Qur’an. Kami tetap berusaha menjalankan amanah bersama secara bergantian dan saling mengisi antar lini. Seperti halnya sandal jepit yang selalu saling beriringan mengayunkan langkah yang indah dalam kebersamaan. Sederhana namun sangat indah, itulah kalian. Inilah pengakuanku atas kesalahan selanjutnya, Perkumpulan dan jalan.

Selasa, 28 Juli 2015

Pengakuan (maaf) atas HTQ


#Part 2

Baiklah, percuma meratapi dan memaki-maki kenyataan saat ini. Pada kenyataannya memang akulah yang terpilih menjadi ketua, bagaimanapun kronologinya. Pada hari  Jum’at tanggal dua belas di bulan dua belas, ikrar itu serentak kami ucapkan. Itulah salah satu tali pengikat kebersamaan yang akan menjadi rangkaian cerita indah kita.
Awalnya aku memang tak kenal dan tak tahu siapa kalian. Aku juga tak tahu kalau nantinya aku akan menjadi dekat dan akrab dengan kalian. Amanah ini kujalankan seadanya tanpa banyak gaya. Aku ingin menjalankannya dengan gayaku sendiri tanpa rekayasa karena aku ingin tampil apa adanya diriku tanpa bertopeng sebab itu sama saja dengan membohongi diri sendiri.
Akhir tahun merupakan agenda besar pertama yang  harus kujalani. Aku sangat salut dengan teman-teman panitia yang bersedia mengorbankan waktu liburannya untuk melayani para mahasiswa yang mengisi liburannya dengan Qur’an. Obsesi dan ambisi adalah bagus jika tujuannya positif dan dilaksanakan dengan rapi serta sesuai atau tepat. Namun sebaliknya jika dilakukan kurang tepat, akan sulit untuk menjadikan suksesnya rangkaian acara yang diharapkan. Itulah yang terjadi dimana panitia inti kurang harmonis karena dua hal yang telah kusebutkan seharusnya dijalankan dengan sistem organisasi yang tertata rapi, dijalankan secara individual oleh orang yang seharusnya cukup managing, monitoring  dan leading. Terjadilah konflik internal sehingga aku harus turun lapangan.
Aku tak tahu apa hasil dari luapan emosi, tabah hingga marah, tangis antara salah dan haru, serta tawa canda atau senyuman pahit, semua yang telah kita usahakan dan kita kerjakan juga setiap do’a kita, yang jelas itu terasa indah untuk dikenang. Lima kali tangisan perempuan di depanku merupakan salah satu bukti betapa mereka benar-benar berusaha menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh. Konflik internal yang awalnya menjadi perpecahan berakhir dengan terbentuknya keluarga kecil yang penuh keharmonisan dengan satu tujuan yaitu Al-Qur’an.
Description: E:\Images\journeys\papumasyauqi\P_20150201_081324_1.jpg
Terima kasih bagi kalian yang telah membuat emosiku tersulut. Terima kasih bagi kalian yang telah membuatku harus bersikap lembut dan lebih peka dalam perasaan. Maaf bagi kalian yang selama ini –mungkin hingga membaca tulisan ini- masih tersinggung bahkan sakit hati. Maafku bagi kalian atas marah dan amarahku, ucapan yang menusuk, sikap yang tak wajar dan tak pantas, serta setiap keteledoran di even penting dan malas di saat yang tidak tepat. Terakhir, ma’af dan terima kasih atas petualangan di awal 2015 dari pantai Papuma sampai balik gunung Bromo, hehe.  Maka kesalahan kedua, tidak tahu dan perkenalan.

Sabtu, 18 Juli 2015

Pengakuan (maaf) atas HTQ




#part 1
Kesalahan pertama, adalah pilihan. Awalnya aku akan dipilih sebagai ketua panitia pelaksana Musyawarah Tahunan Anggota (Syata). Selama menjadi anggota, aku belum pernah menjabat panitia lebih dari sie.konsumsi. Kalau untuk menjadi ketua, pada kesempatan-kesempatan yang lain sebelumnya memang pernah. Tapi aku ingin tahu ada apa dibalik ini. Maka kuselidiki ke teman-teman senior yang merancang ini.
Ternyata ini sebuah ‘perangkap’ bagiku. Ya, aku menyebutnya sebagai perangkap karena ini sudah direncanakan oleh mereka. Seperti halnya perangkap yang tujuannya mengunci atau mengepung ataupun menghentikan gerak, itu juga menjadi harga mati. Jika aku menyetujui untuk menjadi ketua pelaksana, ada kemungkinan aku tidak menjadi ketua umum dan sebaliknya jika aku tak menyetujui, aku akan dijadikan kandidat ketua umum. Sulit memang, aku akan menghadapi kenyataan yang cukup berat. Namun aku harus memilih salah satu persetujuan.
Lari dari keduanya ? itu merupakan cara para pecundang  yang tak mau melihat mentari esok hari, terus berlari dari jalan baru yang belum tentu membuatnya menjadi tersesat. Dengan lari  dari urusan tersebut, aku juga akan dihantui oleh momok-momok selanjutnya pada acara-acara besar yang sudah terjadwal. Cara halus mereka untuk melancarkan ‘perangkap’ kepadaku, membuatku tak punya alternatif pilihan.
Aku memilih resiko yang lebih ringan, pilihan pertama dari kedua pilihan. Kulaksanakan amanah sebagai ketua pelaksana Musyawarah Tahunan sambil bergelut dengan tugas-tugas akhir kuliah. Aku lebih memilih kerja lapangan, begitu satu rencana matang langsung eksekusi dilaksanakan. Itulah kinerjaku bersama kawan-kawan sejumlah kurang lebih dua puluh calon orang sukses. Perangkap yang telah kuprediksi ternyata malah membuatku terperangkap dua rangkap. Kenyataan yang berat, kerja keras untuk pelaksanaan Musyawarah Tahunan yang acara puncaknya yaitu pemilihan ketua umum yang baru mengejutkan urat nadiku dengan terpilihnya aku sebagai ketua umum yang baru.
Iya, aku terjerat dua perangkap sekaligus. Sial, ucapku dalam hati yang terbawa emosi. Emosiku meluap menjadi air mata kedua kalinya yang menetes saat lagu mars dikumandangkan. Adapun yang pertama, motivasi Ust.Syafa’at telah berhasil membuatku menangis kala para audien semangat gembira. Bagiku, ini merupakan kekalahan siasat dan merupakan kesalahan pilihan. Namun ada hal yang penting, dari kesalahan ini aku belajar bagaimana mengemban amanah dan tanggung jawab semampu mungkin dengan tampilan apa adanya. Tapi, aku baru tahu kalau ternyata akan muncul sebuah kenangan yang sangat indah dalam kebersamaan keluarga Allah para penghafal Qur’an. Segala maaf tak cukup terucap atas setiap salah dan khilaf selama aku mengemban amanah menjadi ketua. Ucapan terima kasih membanjiri dari hati kepada kalian semua atas ‘kesalahan’ ini.   

Rabu, 17 Juni 2015

Imitasi dan modeling dalam Islam



Konsep modeling yang dicetuskan oleh Bandura ternyata dalam Islam telah ada sejak dulu. Bandura adalah seorang tokoh psikologi di era abad ke-20 ini. Bandura mencetuskan teori belajar sosial. Ada beberapa konsep yang dilahirkan oleh ilmuwan ternama ini. Salah satu diantaranya yaitu konsep  modeling. Modeling merupakan belajar melalui observasi dengan menambahkan atau atau mengurangi tingkah laku yang teramati dengan melibatkan proses kognitif. Secara singkat, modeling adalah menirukan perilaku yang diperagakan oleh orang atau objek yang dijadikan model. (role model). Selain istilah modeling ,ada istilah yang serupa yaitu imitasi. Namun antara keduanya mempunyai perbedaan yang signifikan. Perbedaan yang jelas diantaranya adalah adanya proses kognitif yang ada dalam modeling, berbeda dengan imitasi yang tidak ada proses kognitif di dalamnya.
            Menurut Bandura, perlakuan seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri (kognitif) dan lingkungan. Bandura melukiskan Teori Belajar Sosial berusaha menjelaskan tingkah laku manusia dari segi interaksi timbal-balik yang berkesinambungan antara faktor kognitif, tingkahlaku, dan faktor lingkungan. Dalam proses determinisme timbal-balik itulah terletak kesempatan bagi manusia untuk mempengaruhi nasibnya maupun batas-batas kemampuannya untuk memimpin diri sendiri (self-direction). Konsepsi tentang cara manusia berfungsi semacam ini tidak menempatkan orang semata-mata sebagai objek tak berdaya yang dikontrol oleh pengaruh-pengaruh lingkungan ataupun sebagai pelaku-pelaku bebas yang dapat menjadi apa yang dipilihnya. Manusia dan lingkungannya merupakan faktor-faktor yang saling menentukan secara timbal balik (Bandura, 1977)
Salah satu yang dicetuskan oleh Bandura adalah modeling. Setiap perilaku individu adalah hasil dari observasi (pengamatan) sebelumnya. Dari pengamatan tersebut, individu memperoleh contoh bagaimana membuat suatu perilaku tertentu. Agar modeling ini bisa efektif, ada bebrapa hal yang diperlukan untuk modeling yaitu:
Atensi (perhatian). Bagi seorang individu untuk belajar sesuatu, ia harus memperhatikan fitur dari perilaku yang dimodelkan. Termasuk kekhasan, afektif valensi, prevalensi, kompleksitas, nilai fungsional. Karakteristik seseorang (kapasitas sensoris misalnya, tingkat gairah, mengatur persepsi, penguatan sebelumnya) juga mempengaruhi perhatian.
Retensi (ingatan). Individu harus mampu mengingat detail dari perilaku untuk belajar dan kemudian mereproduksi perilaku. Termasuk pengkodean simbolis, gambaran mental, kognitif organisasi, latihan simbolis, latihan motorik.
Reproduksi. Dalam mereproduksi perilaku, seseorang harus mengatur tanggapan nya sesuai dengan perilaku model. Kemampuan ini dapat ditingkatkan dengan praktek.
Motivasi. Memiliki motif dasar yang baik untuk meniru. seperti harapan masa lalu (behaviorisme tradisional), menjanjikan (insentif yang dibayangkan) dan perwakilan (melihat dan mengingat model yang patut ditiru)
Beralih ke imitasi, imitasi merupakan konsep bagian dari operan conditioning untuk menjelaskan bagaimana individu merespon stimulus yang datang kepadanya. Imitasi merupakan bagian dari conditioning tersebut. Di dalam konsep imitasi, tidak ada proses mental yang terjadi. Pengulangan yang dilakukan merupakan bentuk penguatan terhadap terjadinya respon, tanpa disertai dengan aspek pengolahan kognisi dan kesadaran individu.
Imitasi sering mengambil contoh mengenai seorang anak yang memakai sepatu berhak tinggi dan lipstick milik ibunya dan berjalan sambil membawa tas. Hal ini merupakan bentuk imitasi. Anak ini melihat bagaimana ibunya melakukan hal tersebut. Ada stimulus visual yang memancing dirinya untuk tertarik melakukan hal yang serupa. Semakin sering ia melihat ibunya berdandan, semakin ketertarikannya bertambah kuat dan mencoba hal yang sama. Ia melihat bagaimana cara pemakaian benda-benda tersebut, tanpa mengerti makna perilaku tersebut oleh karena tidak terjadi proses kognisi aktif.

Bedanya dengan modeling, modeling justru menekankan adanya proses kognisi dalam meniru perilaku model. Itulah sebabnya Bandura menamai teorinya “Social Cognitive Learning”. Artinya ada proses kognitif aktif yang terjadi pada subjek. Ia melihat dan memperhatikan dengan seksama (atensi), lalu ia mengingat dan memproduksinya di dalam struktur kognisinya (retensi). Ia merenungkan dan membentuk kesan . Pada tahap ini, terjadi proses evaluatif. Artinya, bisa jadi suatu hal berkesan pada dirinya, namun ia tidak menirunya karena alasan-alasan tertentu. Bisa saja ia telah belajar sesuatu dari apa yang diamatinya tanpa harus mengalaminya, dimana Bandura menyebutnya “vicarious learning”. Tahap berikutnya adalah reproduksi motor. Artinya, subjek memutuskan untuk menirunya atas dasar keuntungan-keuntungan yang ia telah pertimbangkan ketika memproduksi perilaku tersebut. Adanya reward dan feedback akan memperkuat terjadinya perilaku tertentu.
Perbedaan antara imitasi dan modeling yang telah dijelaskan, ternyata terdapat pula dalam ajaran Islam. Di dalam Islam, imitasi disebut taqlid dan modeling disebut uswah. Keduanya juga mempunyai perbedaan sama halnya dengan perbandingan imitasi dan modeling.
Taqlid adalah kata berebahasa Arab yang berasal dari kata dasar qollada yang mempunyai arti yaitu meniru. Ketika seseorang melakukan sesuatu tanpa dasar dan tanpa proses seperti halnya yang dikemukakan dalam modeling, maka itu adalah taqlid. Jadi pada taqlid tidak ada proses mental atau kognisi akti dari individu.
Berbeda halnya dengan konsep uswah. Uswah adalah kata berabahasa Arab yang mempunyai arti teladan. Kata uswah ini sering dikaitkan dengan tokoh-tokoh besar. Dalam proses uswah, individu tidak harus mendapati langsung perilaku tersebut dari role model atau objek yang akan ditiru. Namun, indiviu bisa melakukannya melalui perantara sama halnya dengan tahap dalam modeling.
Salah satu konsep modeling yang tetap bertahan sampai saat ini di kalangan umat Islam adalah uswatun hasanah. Mayoritas umat Islam melakukan ritual ibadah dan berbagai perilaku (dalam bahsa Arab disebut akhlaq) melalui uswah chasanah (teladan yang baik). Walaupun orang yang menjadi memberi contoh (role model) sudah lama meninggal dan tidak bertemu langsung dengan mereka, tapi karena perantara dari para ilmuwan penyebar agam Islam yang kuat menjadikan uswah chasanah ini tetap lestari hingga saat ini.
Dari penjelasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa perbedaan modeling imitasi adalah adanya proses kognitif pada modeling tapi tidak ada dalam imitasi. Konsep modeling dan imitasi serta perbedaannya yang ada pada teori psikologi milik Bandur juga ada pada ajaran Islam yaitu taqlid dan uswah. Taqlid dalam psikologi disebut imitasi sedangkan uswah dalam psikologi disebut modeling.  

Minggu, 14 Juni 2015

Berbakat dengan Qur’an





Proses dan porsi pembelajaran dalam pendidikan tidak selalu sama rata semuanya bagi setiap peserta didik. Ada beberapa anak atau siswa yang mempunyai kemampuan khusus ataupun di atas rata-rata siswa atau anak-anak pada umumnya. Itulah mereka yang disebut anak berbakat. Ada pendidikan khusus bagi anak berbakat dengan pembelajaran yang tentu berbeda. Kebanyakan orang memandang siswa yang punya kecerdasan di atas rata-rata adalah siswa yang berbakat.
Apakah sebenarnya seperti itu ? Chaplin (2002) mengartikan bakat sebagai kapasitas untuk berprestasi. Sebenarnya banyak aspek dalam istilah ‘anak berbakat’. Lyman (dalam Fudyartanta, 2005) mendefinisikan bakat sebagai kombinasi karakteristik alami dan yang dipelajari yang mengidikasikan kapasitas seseorang untuk mengembangkan kecakapannya dalam beberapa keterampilan. Freeman (dalam Fudyartanta, 2005) mengemukakan bahwa bakat adalah suatu kombinasi karakteristik yang berkapasitas individual untuk memperoleh (melalui latihan) beberapa pengetahuan khusus, ketrampilan atau suatu respon yang terorganisir. Misalnya kemampuan berbahasa, menjadi pemusik ataupun kemampuan mekanik.
Ternyata ada cukup banyak anak yang berbakat selain di bidang intelegensi. Bakat mereka bermacam-macam. Ada bakat seni seperti seni lukis, seni tari dan sebagainya. Adapula bakat seperti rasa empati (memahami orang lain), interaksi social, kecakapan berbicara dan lainnya. Memimpin juga merupakan bakat. Jadi, bakat tidak sebatas pada kemampuan kognisi atau integelensi saja.
            Al-Qur’an yang menjadi kitab suci umat Islam juga bisa menjadikan seseorang berbakat. Ada beberapa hal dalam Al-Qur’an yang menjadikan seseorang berbakat.  Ada anak kecil yang hafal Al-Qur’an, ada yang pintar melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan berbagai lagu qiro’ah dan masih banyak beberapa contoh anak berbakat lainnya. Lantas, apakah bakat-bakat yang bisa didapat dari Al-Qur’an ada dalam bentuk-bentuk bakat yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh tersebut ? Berikut uraian penjelasannya.
Tahfidz 30 juz
Tahfidz adalah kata bahasa arab yeng berasal dari kata dasar chafidzo yang mempunyai arti menghafal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia menghafal adalah berusaha meresapkan ke dalam pikiran agar selalu ingat. Hafal Al-Qur’an 30 juz setebal ratusan halaman merupakan suatu kemampuan kognisi yang luar biasa, apalagi itu terjadi pada masa anak-anak. Musa bin Abi La ode dari Bangka Belitung telah menghafalkan Al-Qur’an 30 juz. Belum genap usianya mencapai enam tahun, ia telah menyelesaikan hafalan 30 juz dari Al-Qur’an. Ia dikukuhkan sebagai hafidz (penghafal qur’an) termuda saat perlombaan tahfidz internasional di Arab Saudi tahun 2014 kemarin.
Salah satu aspek dalam bakat adalah kemampuan kognisi serta intelegensi tinggi. Hafalan juga merupakan bagian dari intelegensi. Oleh karena itu, seorang anak yang sudah bisa hafal Al-Qur’an setebal ratusan halaman dikatakan sebagai anak berbakat. Tentunya bakat ini tidak langsung didapatkan seketika itu. Ada potensi pada anak kecil saat lahir yang diketahui oleh orang tuanya. Kemudian ada proses yang dijalani untuk mencapai bakat ini.
Qiro’ah
Qiro’ah juga kata berbahasa arab yang berasal dari kata dasar qoro’a yang mempunyai arti dasar membaca. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia membaca diartikan sebagai melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Namun qiro’ah  yang dimaksudkan bukan hanya sekedar membaca. Qiro’ah  secara singkat yaitu membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan kaidah lagu-lagu tertentu. Tidak semua orang bisa qiro’ah ini. karena itu seorang Qori’ dalam dunia Islam diberi penghargaan tinggi.  
Syamsuri Firdaus, seorang remaja berusia 16 tahun asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah qori internasional terbaik kategori anak-anak pada MTQ (Musaabaqoh Tilawatil Qur’an) tahun 2014. Bakat yang dimiliki oleh bocah yang baru besar ini adalah suaranya yang merdu dilantunkan dalam qiro’ah. Dalam membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan qiro’ah, ada banyak hal yang harus dikuasai dan dipersiapkan. Qiro’ah ini juga termasuk seni suara dalam membaca Al-Qur’an.
Kemampuan seni (termasuk seni suara) merupakan salah satu dari aspek  berbakat yang dibagi oleh Cohn yaitu : kemampuan intelektual, kemampuan aristik (seni) dan kemampuan sosial. Bakat qiro’ah dari Syamsuri Firdaus adalah salah satu contoh potensi bakat yang dikembangkan dengan maksimal yaitu seni suara.  
Doktor cilik Al-qur’an
Berikutnya yaitu Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i seorang bocah yang mendapatkan gelar  Doktor di Hijaz Collage Islamic University. Husein adalah doktor cilik yang hafal dan paham al-Qur’an. Ia mendapatkan gelar doktoral ketika baru berusia tujuh tahun. Gelar doktoral yang diterimanya bukan hanya karena hafal Al-Qur’an. tetapi juga mampu menerjemahkan arti dari setiap ayat ke dalam bahasa Persia, memahami makna ayat-ayat tersebut, dan bisa menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari. Bahkan, Husein mampu mengetahui dengan pasti di halaman berapa letak suatu ayat, dan di baris ke berapa, di kiri atau sebelah kanan halaman al-Qur’an, atau menyebutkan ayat-ayat dalam satu halaman secara terbalik, mulai dari  ayat terakhir samapai ke ayat pertama.Ia juga mampu  menafsirkan dan menerangkan ayat al-Qur’an dengan menggunakan ayat lainnya dan metode menerangkan makna al-Qur’an dengan metode isyarat tangan. Ini adalah sebuah contoh nyata komplesitas bakat dalam Al-Qur’an yang dimiliki oleh seorang anak berusia tujuha tahun.
Kemampuan verbal maupun isyarat, kemampuan intelektual, kemampuan bahasa dan kecakapan serta kreatifitas dalam ingatan adalah sebuah kompleksitas yang dikemukakan oleh para tokoh mengenai bakat. tentunya tak mudah didapatkan. Kemampuan yang beragam ini telah dilatih sejak kecil. Sejak berusia dua tahun, Husein telah belajar Al-Quran dan selesai menghafal 30 juz pada usia lima tahun kemudian mengembangkan ke-Al-Qur’an-annya hingga mencapai prestasi gemilangnya pada usia tujuh tahun. Jadi, pada intinya bakat tidak langsung muncul pada seorang anak namun harus terus diasah agar semakin meningkat.

Dari penjelasan-penjelasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an juga bisa membuat seorang anak berbakat sejak kecil. Setiap orang yang beragama Islam pasti punya potensi dan kesempatan untuk mendapatkan berbagai bakat dari Al-Qur’an, tinggal bagaimana ia mengembangkan potensi dan kesempatan tersebut dengan maksimal sehingga ia mendapatkan gelar “Berbakat dengan Al-Qur’an. Semoga kita umat Islam yang tetap berpegang teguh dengan Al-Qur’an bisa mendapatkan manfaat dan kesuksesan hidup dengan Al-Qur’an.