Selasa, 21 Januari 2014

KOPI KEHIDUPAN



 
                        Kakiku bergerak bergantian kiri kanan untuk melangkah maju ke depan. Pelan perlahan sampailah aku pada sebuah tempat. "Lumayan" sebuah nama terpampang di depannya. Itu adalah warung makan dan minum. Tapi lebih sering aku ke sana untuk minum. Minum secangkir atau segelas berisi cairan warna hitam. Rasanya manis bercampur gurih. Terdiri dari dua macam bubuk yang berbeda rasa dan berbeda warna. Yang putih bernama gula dan bubuk kopi adalah yang berwarna hitam. Diseduh dengan air panas, jadilah sebuah minuman bernama "kopi".
                       
Dia terseduh dalam keadaaan panas. Sepanas otakku yang selalu berpikir. Aku menghempas lelah dan letihku bersamanya. Lelah seharian yang masih terus berlanjut kegiatan-kegiatanku di asrama. Pada pagi, aku bersekolah di sekolah formal swasta "Madarsah Aliyah AlMaarif" sampai pukul satu siang. Aku pulang ke asrama. Dan dua hari dalam seminggu kepulanganku jam dua siang untuk mengikuti tambahan pelajaran ekonomi.

Sampai di asrama, aku rebahkan tubuhku sejenak beristirahat. Setalahnya, aku shalat. Makan siang kadang-kadang, tapi terlambat. Aku kembali ke asrama untuk mempelajari apa yang akan disampaikan pada Madrasah Diniyah Salafiyah setelah ashar,lebih tepatnya pukul 15.40 nanti. Mulai adzan ashar dikumandangkan, aku bersiap mandi dan sholat untuk menyambut kelas yang siap digunakan untuk Kegitan Belajar Mengajar. Saat KBM Madrasah Diniyah berlangsung,  mataku sering terlelap memperhatikan pelajaran yang disampaikan. Mungkin karena lelehnya aku selama seharian belum tidur siang.

Pukul 16.50, atau jam lima kurang sepuluh menit, KBM Madrasah Diniyah telah usai. Aku segera keluar kelas menuju kamar dan langsung meletakkan kitab . Tanganku memanjang mengambil uang saku di lemari. Sepasang sandal tak lupa kubawa ke bawah dan terjun melesat ke warung kopi. Aku sendirian pergi ke sana memang sering . Karena dalam minuman kopi itulah kesendirinaku tertuang. Saat aku dalam keadaan tersendiri dan sisapa yang mau menemani ?. Masalahku sering kuutarakan dan kuevaluasi dalam kopi ini. Inilah teman yang bersamaku ketika masalah menghampiriku, dan ketika pikiranku lelah dan panas seperti segelas atau secangkir kopi yang baru tertuang.

Muhasabahku mulai mengevaluasi apa yang terjdi pada diriku sedikit demi sedikit bersamaaan dengan "sruputan" kopi panasku perlahan. Temanku dalam kesendirianku ini yang lain, sebatang rokok. Menyalalah ujungnya dengan api yang muncul dari korek yang kugesek. Mengepul asap seolah masalah yang kuevaluasi juga mulai muncul mengepul.

Aku menghisap asap dari rokok layaknya hisapan pikiranku yang menilai apa yang telah terjadi. Mulutku menyesap kopi bergantian dengan hisapan rokok bersama imajinasi berusaha mencari dan membuka jawaban dari masalahku. Asap bergantian terhisap dan terbuang ke udara. Begitulah masalah terhisap silih berganti pada diriku dan setelah itu terbang terbawa tiupan perjalanan waktu. Sampai pada ujung rokok yang panjangnya kurang dari tiga senti (3 cm)tersebut, selesailah hisapanku. Selesai jugalah  pemecahanku untuk menggali dan menemukan jawaban masalah ini. Keadaan yang serupa dengan kopiku yang hanya tinggal ampasnya. Masalah selalu silih berganti menerjang dan menerpa hidup ini. Aku harus bisa menghisap hikmah-hikmah yang ada dibalik masalah. Dan ketika masalah selesai tinggallah pelajaran-pelajaran berharga yang dapat kuambil . Dan hal-hal yang tak perlu dan tak ada manfaatnya, biarlah hilang begitu saja. Biar dia terbawa angin kehidupan dan jangan hinggap lagi dalam diriku.

Aku berpikir, siapakah dan manakah orang yang seperti segelas atau secangkir kopi ini ?. Dia berwarna hitam seolah-olah semua yang ada dalam kehidupannya dan lika-liku perjalanan hidupnya adalah berwarna hitam. Rasanyapun pahit. Dia terseduh dalam keadaaan panas tak menyegarkan. Juga mempunyai ampas.

Walaupun segala apa yang ada padanya dan lika-liku kehidupannya berwarna hitam, dia memberi rasa yang berbeda dalam hidup ketika datang padanya sesendok gula. Gula yang berwarna putih yang berlawanan dengan dirinya itu tak membuat kopi merasa malu jika bercampur bersamanya. Bahkan kopi bisa menjadikan dirinya berasa manis dan gurih bersama gula yang warnanya berlainan. Toh, gula juga tak menampakkan dirinya jika bersama gula, dia rela. Kopi beserta gula ini masuk dan bergabung dalam satu wadah dengan air yang panas mendidih seolah menyimpan panas amarah. Mereka berdua memberi aroma yang sedap, ras yang manis dan gurih pada air yang mengeluarkan panas amarahnya yang tak berasa dan tak beraroma. Memang mereka bersatu dalam keadaan yang hitam. Tapi, bukan berarti ras dan aroma mereka juga hitam. Mereka menjadi satu dalam yang hangat, nikmat, juga beraroma. Muncullah rasa manis dan gurih dalam satu wadah gelas kehidupan ini. Selain punya suatu kelebihan, pasti ada sisi yang tak berguna dalam setiap benda. Karena setiap sesuatu pasti ada lebih dan kurangnya. Setelah habis apa yang ada dalam segelas kopi, tersisa sedikit ampasnya yang tak berguna. Tak mungkin ada sesuatu yang sempurna. Hanya Allahlah Yang Maha Sempurna.

Kurapikan segelas kopi itu di atas meja. Kurogoh lembaran kertas uang yang ada dalam saku bajuku. Tanganku menyodorkan sejumlah uang, tanganku menggenggam beserta uang recehan kembalian. Arahku melaju ke asrama meninggalkan warung dekat lapangan itu. Kakiku berjalan seirama dengan diriku yang lebih siap melangkah menghadapi apa yang akan terjadi. Lepaslah beban masalah yang menghambat  dan dia sudah terbawa tiupan angin pergi jauh.

Minggu, 05 Januari 2014

Cerita Akhir Dan Awal Tahun, Kondang Merak Belum Lengkap



Selasa, 31 Desember 2013. Segerombolan remaja menjadwalkan untuk peringatan tahun baru 2013 bersama teman sekelas semester awal kuliah. Telah dua semester mereka tidak berada dalam satu kelas. Karena itu, mereka ingin mengadakan acara untuk merasakan kebersamaan awal kuliah mereka dua semester lalu. Dan kebetulan memang, ini adalah saat yang tepat untuk itu. Saat ujian akhir semester hanya tinggal satu hari. Begitu pula dengan tahun 2013 yang hanya tinggal hari ini saja. Peringatan tahun baru 2014 di pantai kondang Merak , Malang selatan menjadi tujuan mereka.
Namun, tahun hijriah menunjukkan “rabu wekasan”, yaitu rabu akhir bulan Shafar. Saat dimana diturunkan sekitar 300.00-an bala’ (bisa disebut musibah) kesialan. Situasi yang berbeda dari yang mereka harapkan. Walau begitu, mereka tetap berangkat. Mereka tidaklah menginginkan apa yang ada pada rabu wekasan, tapi mereka hanya ingin menjalin kebersamaan yang telah direncanakan dengan janji.
Kondang Merak, sebuah pantai yang indah di malang selatan dengan pesona yang masih alami dan belum banyak terjamah oleh orang-orang. Mereka yang berjumlah Sembilan belas orang berangkat sekitar pukul 13.00 dan diperkirakan dua jam mereka bisa sampai ke tempat yang telah dituju.
Tampaknya perjalanan mereka lancar. Jalan yang menanjak dan kurang bersahabat memang menjadi satu-satunya rute yang harus dilewati kendaraan mereka, yaitu mobil Suzuki Avanza dan Estilo serta tiga sepeda motor: Yamaha Vixion, Honda Revo, dan Honda Beat. Namun, hal yang tidak diharapkan terjadi saat mobil Esilo menaiki tanjakan bebatuan dan becek karena hujan turun sejak tiga puluh menit dari pukul 17.00.
Banyak orang yang berlalu lalang melihat serta bertanya kondisi mereka. Tapi, belum ada yang dapat membantu mereka menuju pantai. Mereka pun memutuskan agar teman-teman wanita pergi dulu dengan mobil Avanza dan dua sepeda motor. Sisanya enam laki-laki berada di tempat tersebut. Setelah dicek, hasilnya mengharuskan dua orang turun untuk mencari oli, karena habis atau bocor mungkin. Maka Sesar dan Mirza turun ke jalan bawah sekiranya mereka mendapat oli.
Setelah menunggu sekitar dua puluh menit, oli datang dan segera dituangkan. Mereka berusaha mendorong mobil beberapa kali, namun hasilnya nihil. Mirza memutuskan turun lagi bersama Badi’ untuk mencari bantuan. Sekitar 40 menit setelahnya, datang tiga orang yaitu Azim, Kholis, dan Rusydi adik dari Baroroh. Mereka bertiga membawa beberapa makanan dan minuman dari pantai. Tetapi, mereka semua tetap menunggu Badi’ dan Mirza. Beberapa saat kemudian, Iqbal dan Ahdiat naik untuk mencari bantuan di pantai, barangkali bisa diminta.
Sampai jam sepuluh malam, Mirza dan Badi’ sampai kembali di mobil yang mogok ini bersama mobil Truck yang akan menarik mobil ini kembali ke bawah. Di saat yang sama, datang pula Iqbal dan Ahdiat bersama mobil Jipp dengan tujuan menarik menarik mobil ke pantai. Mereka memutuskan mobil ini agar turun ke bawah dengan Mirza dan Sesar, sedangkan sisanya ikut mobil Jipp ke pantai beserta barang-barang yang diperlukan.
Perayaan tahun baru di pantai lumayan meriah, namun mereka masih menantikan kehadiran Mirza dan Sesar. Setelah perayaan, terlihat sepeda motor dari pos. Kabar gembira, itu adalah Sesar yang diantar oleh temannya. Maka mereka merayakan tahun baru ini semalaman bersama-sama dengan bakar-bakar, bernyanyi, juga berjalan-jalan di perairan mencari hewan-hewan di perairan dangkal. Akan tetapi, masih ada satu yang mengganjal dan menjadi beban pikiran. Mirza masih berada di bawah sana. Bagaimana keadaannya ?