Kakiku bergerak
bergantian kiri kanan untuk melangkah maju ke depan. Pelan perlahan sampailah
aku pada sebuah tempat. "Lumayan" sebuah nama terpampang di depannya.
Itu adalah warung makan dan minum. Tapi lebih sering aku ke sana untuk minum.
Minum secangkir atau segelas berisi cairan warna hitam. Rasanya manis bercampur
gurih. Terdiri dari dua macam bubuk yang berbeda rasa dan berbeda warna. Yang
putih bernama gula dan bubuk kopi adalah yang berwarna hitam. Diseduh dengan
air panas, jadilah sebuah minuman bernama "kopi".
Dia terseduh dalam keadaaan panas. Sepanas otakku yang selalu berpikir.
Aku menghempas lelah dan letihku bersamanya. Lelah seharian yang masih terus berlanjut
kegiatan-kegiatanku di asrama. Pada pagi, aku bersekolah di sekolah formal
swasta "Madarsah Aliyah AlMaarif" sampai pukul satu siang. Aku pulang
ke asrama. Dan dua hari dalam seminggu kepulanganku jam dua siang untuk
mengikuti tambahan pelajaran ekonomi.
Sampai di asrama, aku rebahkan tubuhku sejenak beristirahat. Setalahnya,
aku shalat. Makan siang kadang-kadang, tapi terlambat. Aku kembali ke asrama
untuk mempelajari apa yang akan disampaikan pada Madrasah Diniyah Salafiyah
setelah ashar,lebih tepatnya pukul 15.40 nanti. Mulai adzan ashar
dikumandangkan, aku bersiap mandi dan sholat untuk menyambut kelas yang siap
digunakan untuk Kegitan Belajar Mengajar. Saat KBM Madrasah Diniyah
berlangsung, mataku sering terlelap
memperhatikan pelajaran yang disampaikan. Mungkin karena lelehnya aku selama
seharian belum tidur siang.
Pukul 16.50, atau jam lima kurang sepuluh menit, KBM Madrasah Diniyah
telah usai. Aku segera keluar kelas menuju kamar dan langsung meletakkan kitab
. Tanganku memanjang mengambil uang saku di lemari. Sepasang sandal tak lupa
kubawa ke bawah dan terjun melesat ke warung kopi. Aku sendirian pergi ke sana
memang sering . Karena dalam minuman kopi itulah kesendirinaku tertuang. Saat
aku dalam keadaan tersendiri dan sisapa yang mau menemani ?. Masalahku sering
kuutarakan dan kuevaluasi dalam kopi ini. Inilah teman yang bersamaku ketika
masalah menghampiriku, dan ketika pikiranku lelah dan panas seperti segelas
atau secangkir kopi yang baru tertuang.
Muhasabahku mulai mengevaluasi apa yang terjdi pada diriku sedikit demi
sedikit bersamaaan dengan "sruputan" kopi panasku perlahan. Temanku
dalam kesendirianku ini yang lain, sebatang rokok. Menyalalah ujungnya dengan api
yang muncul dari korek yang kugesek. Mengepul asap seolah masalah yang
kuevaluasi juga mulai muncul mengepul.
Aku menghisap asap dari rokok layaknya hisapan pikiranku yang menilai
apa yang telah terjadi. Mulutku menyesap kopi bergantian dengan hisapan rokok
bersama imajinasi berusaha mencari dan membuka jawaban dari masalahku. Asap
bergantian terhisap dan terbuang ke udara. Begitulah masalah terhisap silih
berganti pada diriku dan setelah itu terbang terbawa tiupan perjalanan waktu.
Sampai pada ujung rokok yang panjangnya kurang dari tiga senti (3 cm)tersebut,
selesailah hisapanku. Selesai jugalah
pemecahanku untuk menggali dan menemukan jawaban masalah ini. Keadaan
yang serupa dengan kopiku yang hanya tinggal ampasnya. Masalah selalu silih
berganti menerjang dan menerpa hidup ini. Aku harus bisa menghisap hikmah-hikmah
yang ada dibalik masalah. Dan ketika masalah selesai tinggallah
pelajaran-pelajaran berharga yang dapat kuambil . Dan hal-hal yang tak perlu
dan tak ada manfaatnya, biarlah hilang begitu saja. Biar dia terbawa angin
kehidupan dan jangan hinggap lagi dalam diriku.
Aku berpikir, siapakah dan manakah orang yang seperti segelas atau
secangkir kopi ini ?. Dia berwarna hitam seolah-olah semua yang ada dalam
kehidupannya dan lika-liku perjalanan hidupnya adalah berwarna hitam.
Rasanyapun pahit. Dia terseduh dalam keadaaan panas tak menyegarkan. Juga
mempunyai ampas.
Walaupun segala apa yang ada padanya dan lika-liku kehidupannya berwarna
hitam, dia memberi rasa yang berbeda dalam hidup ketika datang padanya sesendok
gula. Gula yang berwarna putih yang berlawanan dengan dirinya itu tak membuat
kopi merasa malu jika bercampur bersamanya. Bahkan kopi bisa menjadikan dirinya
berasa manis dan gurih bersama gula yang warnanya berlainan. Toh, gula juga tak
menampakkan dirinya jika bersama gula, dia rela. Kopi beserta gula ini masuk
dan bergabung dalam satu wadah dengan air yang panas mendidih seolah menyimpan
panas amarah. Mereka berdua memberi aroma yang sedap, ras yang manis dan gurih
pada air yang mengeluarkan panas amarahnya yang tak berasa dan tak beraroma.
Memang mereka bersatu dalam keadaan yang hitam. Tapi, bukan berarti ras dan
aroma mereka juga hitam. Mereka menjadi satu dalam yang hangat, nikmat, juga
beraroma. Muncullah rasa manis dan gurih dalam satu wadah gelas kehidupan ini.
Selain punya suatu kelebihan, pasti ada sisi yang tak berguna dalam setiap
benda. Karena setiap sesuatu pasti ada lebih dan kurangnya. Setelah habis apa
yang ada dalam segelas kopi, tersisa sedikit ampasnya yang tak berguna. Tak
mungkin ada sesuatu yang sempurna. Hanya Allahlah Yang Maha Sempurna.
Kurapikan segelas kopi itu di atas meja. Kurogoh lembaran kertas uang
yang ada dalam saku bajuku. Tanganku menyodorkan sejumlah uang, tanganku menggenggam
beserta uang recehan kembalian. Arahku melaju ke asrama meninggalkan warung
dekat lapangan itu. Kakiku berjalan seirama dengan diriku yang lebih siap
melangkah menghadapi apa yang akan terjadi. Lepaslah beban masalah yang
menghambat dan dia sudah terbawa tiupan
angin pergi jauh.
