Belajar
Psikologi, menurut saya adalah sangat menarik. Ilmu yang mempelajari tentang
gejala-gejala kejiwaan ini memang unik. Karena objek yang dikaji adalah jiwa. Sedangkan jiwa adalah hal yang abstrak, tak
nyata. Yang nampak dari gejala-gejala kejiwaan ini adalah perilaku. Memang,
manusia adalah makhluk yang hebat. Manusia mempunyai rasa keingintahuan yang
terus berkembang, hingga dia ingin mengetahui tentang dirinya sendiri.
Kemudian,
manusia mulai mengamati perilaku-perilaku manusia lainnya. Dia mengamati apa,
mengapa, dan bagaimana manusia berperilaku. Mereka mengamati manusia dari
setiap kalangan, berbagai umur mulai sejak lahir hingga tua.
Kita
sebagai ummat Islam, mungkin perlu juga untuk mengetahui, bahwa dalam kitab
suci pedoman kita yaitu Al Qur’an juga membahas tentang jiwa ini. Al Qur’an
telah menyebutkan tentang jiwa berupa
kata “ruh” atau “nafsu”
di beberapa surat, diantaranya :
a. Surat Al Israa’ ayat 85
Dan mereka bertanya
kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah
“Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya
sedikit”.
b. Surat Yusuf ayat 53
Dan aku tidak (menyatakan) diiriku bebas (dari
kesalahan) nafsu/ jiwa selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu/jiwa)
yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha
Penyayang
c. Surat Al Fajr ayat 27-30
Wahai jiwa yang tenang(27)Kembalilah pada Tuhanmu
dengan ridha dan diridhaiNya(28)Maka masuklah ke dalam golongan
hamba-hambaKu(29)Dan masuklah ke dalam surgaKu
Jiwa juga dibuat
sumpah oleh Allah dalam Al
Qur’an, diantaranya:
a. Surat Al Qiyamah ayat 2
Dan aku bersumpah demi jiwa yangselalu menyesali
(diri sendiri)
b. Asy Syams ayat 7
Demi
jiwa serta penyempurnaan(ciptaan)Nya
Sekedar
cerita, ketika saya akan mendaftar masuk Universitas lewat jalur SNMPTN, tentunya saya harus memilih
jurusan kuliah saya. Saya memilih
jurusan Psikologi. Saya memilih jurusan itu bukan hanya untuk mencari iijazah
dan pekerjaan untuk masa depan, tetapi lebih pada fungsinya dan manfaatnya. Dengan
ilmu itu saya bisa mengetahui kepribadian orang lain, bisa memahami orang lain,
juga bisa membantu menyelesaikan masalahnya. Saya ingin bermanfaat bagi orang
lain. Dan yang terpenting, saya bisa mengerti tentang diri ini, untuk apa dan
harus bagaimana saya berperilaku dan bersikap, juga apa makna terdalam dari
diri ini, seperti tujuan dari Humanistik.
Ternyata, sedikit demi sedikit saya
mulai bisa memanivestasikan materi-materi yang telah saya dapat. Dengan mempelajari
tentang strukturalisme dan fungsionalisme, saya bisa mengintropeksi,
mengevaluasi, dan mem-planning diri saya. Dengan mempelajari tentang
psikoanalisis, saya memahami perbuatan dan sikap yang saya lakukan. Saya mulai mengetahui mana ego saya, dan mana
super-ego saya. Dengan mempelajari
Behaviorisme, saya mengetahui perilaku yang telah menjadi kebiasaan saya. Dan
dengan mempelajari Humanistik, saya mengetahui potensi dan eksistensi manusia
di dunia ini yang menjadi hamba pada Tuhannya.
Setiap materi yang dipelajari, bisa diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang saya jalani di Universitas ini adalah
proses belajar. Bukan hanya perkuliahan saja, mungkin juga setiap perilaku kita
adalah hasil belajar kita lewat indera kita di masa kini ataupun masa lalu, sebagaimana teori Walker dalam bukunya Conditioning and Instrumental Learning(1967)
mengenai pengertian belajar yaitu “perubahan perbuatan sebagai akibat dari
pengalaman“. Bagaimana orang bisa lupa, bagaimana orang bisa susah melupakan kejadian
masa lalunya, dan bagaimana kita bisa merencanakan apa yang akan kita lakukan
adalah aplikasi dari materi belajar dan mengingat/mengahafal.
Manfaat Psikologi dalam kehidupan
sehari-hari memang terasa dan terealisai dalam kehidupan sehari-hari. Manusia
tak mungkin bisa hidup sendiri. Dia pasti membutuhkan orang lain. Dia juga
pasti berinteraksi dengan orang lain. Untuk menjalin interaksi yang bagus
itulah, manusia juga membutuhkan Psikologi.
Ketika
saya bergaul dengan orang-orang di sekitar saya, saya mulai merasakan itu. Saya
berusaha memahami orang lain. Ketika teman-teman saya berada dalam masalah, dia
bercerita dan meminta solusi kepada saya. Saya mulai mencoba untuk menerka apa yang sedang
dialami oleh teman saya itu. Saya mencoba membuka
rasa
empati agar saya bisa merasakan seandainya sayabeerada dalam masalah itu. Sedikit demi sedikit,
saya bisa membantu masalahnya. Hubungan
saya dengan teman-teman saya pun mulai jadi lebih baik dan lebih akrab. Saya
juga merasa sedikit lebih mudah
untuk menjadi akrab dengan orang lain.
Selain
itu, ternyata saya juga telah mulai
memahami contoh konkrit beberapa pelajaran psikologi, diantaranya adalah emosi,
persepsi, sensasi, kognisi, perasaan, dan penalaran. Pada seorang pria yang sedang
jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan seorang wanita ada pelajaran itu
semua. Ketika baru melihat dan mengetahui wanita, pria ini menggunakan alat
indera untuk mengenal, itulah yang
dinamakan proses persepsi. Kemudian dia memikirkan
dan bernalar-yang merupakan kognisi- tentang
wanita yang diamatinya itu. Selanjutnya, muncullah suatu sensasi yang berupa
aksi pria berdasarkan perasaan yang timbul dari dirinya dan apa yang dipersepsikannya.
Timbul rasa cinta kepada Si “dia”, marah bila kita atau dia diganggu, takut jika
kehilangan dia, dan sebagainya adalah
contoh riil dari salah satu pelajaran psikologi, yaitu emosi.
Walaupun
masih sedikit yang saya dapatkanda n saya pelajari dari psikologi, tetapi saya
merasakan manfaat yang nyata dari ilmu psikologi ini. Pada awal pertemuan
kuliah, setiap
mahasiswa di kelas diberi pertanyaan “Mengapa anda masuk
psikologi ?” Ketika tiba giliran saya
mendapat pertanyaan itu, saya menjawab “Karena
Psikologi adalah ilmu yang hebat. Orang yang bisa memahami, menerapkan,
dan menguasai Psikologi
adalah orang yang hebat dan luar biasa”. Mungkin, jawaban saya yang tanpa pikir
panjang itu ada benarnya juga. Dan itulah salah satu keinginan saya. “Psychlogy is the great !”.