Minggu, 21 Desember 2014

Anggapan yang Perlu Dibenarkan dalam Bimbingan Konseling di Sekolah



Pendahuluan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia konseling ialah: 1.pemberian bimbingan oleh yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis dan sebagainya; 2.pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dalam memecahkan berbagai masalah. Sedangkan bimbingan konseling adalah layanan bantuan untuk peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995).
Bimbingan Konseling (BK) merupakan salah satu komponen dalam keseluruhan sistem pendidikan di sekolah. Siswa, guru, orang tua atau wali murid dan warga masyarakat masih banyak yang belum mengetahui dan memahami BK di sekolah. Banyak anggapan yang ditujukan terhadap BK di sekolah. Mereka memiliki persepsi yang berbeda-beda. Ada yang menafsirkan BK adalah tempat  menyelesaikan masalah, tempat pemberian hukuman. Ada pula yang menganggap bahwa BK merupakan tempat yang menyeramkan dan menakutkan, karena guru BKnya galak, garang, sadis, bahkan bertindak kekerasan secara fisik. Sehingga  hal tersebut meniimbulkan kesan  bahwa  guru  BK  adalah polisi  sekolah.
Sebagai contoh, siswa yang datang terlambat ke sekolah atau melanggar tata tertib sekolah, kemudian dipanggil ke ruang BK untuk menghadap konselor, maka siswa tersebut akan memiliki pandangan atau anggapan bahwa konselor sekolah adalah sosok orang yang galak, yang biasanya hanya menghukum dan mengatur para siswanya.
Persepsi siswa terhadap konselor terjadi karena siswa tersebut memperhatikan sesuatu yang nampak pada diri konselor yang meliputi penampilan fisik, perilaku dan juga ruang lingkup kerja (tugas) konselor. Jika penampilan fisik, perilaku dan ruang lingkup kerja konselor tidak seperti apa yang diharapkan oleh siswa, maka siswa akan berpersepsi kurang baik (negatif) terhadap konselor. Informasi yang diperoleh menunjukkan bahwa masih ditemukan siswa yang menganggap konselor adalah seorang guru yang galak, tidak bias diajak bercanda, bahkan konselor disebut polisi sekolah yang bisanya hanya memarahi dan menghukum siswa-siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Sehingga apabila ada siswa yang datang menghadap konselor, maka siswa tersebut diyakini mempunyai masalah pelanggaran atau telah berbuat suatu kesalahan.
Anggapan-anggapan yang seperti ini pada dasarnya adalah salah. Anggapan yang salah ini bisa saja disebabkan dari para siswa atau mungkin dari para guru khususnya gur BK itu sendiri. Oleh karena itu anggapan-anggapan seperti ini perlu dibenarkan sebagaimana mestinya agar maksud, peran, fungsi dan tujuan bisa terealisasi secara optimal.

Pembahasan
Mempersepsi tidaklah sama dengan memandang benda dan kejadian tanpa makna. Yang dipersepsi seseorang selalu merupakan ekspresi-ekspresi, benda-benda dengan fungsinya, tanda-tanda serta kejadian-kejadian. Leavitt  berpendapat bahwa “persepsi merupakan pandangan atau bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu” (Sobur, 2003). Persepsi berasal dari sudut pandang yang berbeda-beda tergantung subjek yang mempersepsi. Kadang persepsi seseorang terhadap sesuatu bisa benar dan sesuai dengan realit dan kadang pula perspsi itu tidak sesuai dan menjadi persepsi yang salah karena tidak sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu, walaupun subjek yang memperspsi itu menyatakan apa yang menjadi persepsinya dalah benar.
Ada beberapa anggapan yang perlu dibenarkan mengenai Bimbingan Konseling di sekolah, baik dari siswa maupun dari para guru. Berikut beberapa penjelasannya:
1.      Siswa yang bermasalah saja yang didatangkan kepada guru BK. Sering kali hanya siswa yang mempunyai masalah dengan peraturan sekolah yang menjadi bulan-bulanan guru BK. Ketika ada suatu pelanggaran yang dilakukan oleh siswa, maka siswa yang bersangkutan langsung dihukum oleh BK dan jika ia mengulanginya maka ia akan menjadi langganan guru BK. Yang menjadi pertanyaan ialah, mengapa hanya siswa yang mempunyai kasus dengan peraturan saja ?. bukankah masalah siswa itu tidak hanya itu saja ? Ada masalah lain yang bisa mengganggu siswa.
2.      Guru BK adalah momok bagi siswa. Guru BK yang selama ini dianggap sebagai orang yang selalu memberikan hukuman, poin pelanggaran hingga skors yang pantas bagi siswa yang bermasalah. Para siswa menjadi takut terhadap guru BK. Berurusan dengan guru BK sama halnya bertemu hantu. Berurusan dengan guru BK adalah mimpi buruk setiap siswa. Apakah fungsi BK di sekolah adalah menakut-nakuti ? Apakah fungsi guru BK hanya menghukum siswa ? Penting untuk mengerti dan memahami fungsi Bimbingan Konseling di sekolah.
3.      Para siswa tidak mau mengerti dan memahami tentang apa sebenarnya BK dan seberapa perlu BK di sekolah. Para siswa ketika diberikan sosialisaasi masalah Bimbingan Konseling kurang bisa memahami tentang BK di sekolah. Mereka mendapat informasi-informasi negatif  yang telah lalu dan membudaya di kalangan siswa. Sebelum adanya sosialisasi itu pun mereka sudah mempunyai anggapan negatif terhadap guru BK. Anggapan yang membudaya ini perlu untuk diluruskan. Akan tetapi, mungkin juga dari para guru yang ketika memberikan sosialisasi membuat acara itu biasa-biasa saja ? Atau mungkin guru BK saat sosialisasi dan publikasi tampil dengan gaya yang kurang familiar dan kurang komunikatif ?
4.      Tampilan yang kurang familiar. Tampilan guru BK mungkin selama ini monoton seperti itu saja. Bahkan, bebrapa guru BK di sekolah tampilannya memang menakutkan bagi para siswa. Tampilan disini maksudnya ialah tampilan secara fisik maupun psikis. Guru BK di sekolah tampil dengan penuh menjaga kewibawaan terhadap para siswa. Kewibawaan memang perlu, namun alangkah baiknya jika kewibawaan itu tidak menjadikan jarak yang semakin jauh dengan para siswa. Sehingga para siswa juga enggan untuk berkomunikasi. Tampilan yang kurang ramah juga menjadikan guru BK ditakuti oleh para siswa. Senyum kecil dapat menjadi sebab baiknya hubungan. Bahkan jika seorang guru BK di sekolah ketika bertemu hanya menampilkan wajah dingin tanpa ekspresi yang komunikatif, tentu siswa menjadi tidak suka dengan guru BK.
5.      Publikasi yang komunikatif dan menarik. Publikasi ini bisa juga disebut soialisasi Bimbingan Konseling. Hal yang sering terjadi ialah sosialisasi ini dilaksanakan hanya satu kali setahun, bahkan satu kali pada awal masuk sekolah di jenjang yang bersangkutan. Sosialisasi itu hanya berisi pemberitahuan saja tanpa mengajak audien untuk bertanya ataupun sedikit berdiskusi masalah Bimbingan Konseling. Hal yang jarang terjadi dan kurang mengena di ingatan tentu tidak akan membuat sebuah kesan. Para siswa secara otomatis atau perlahan akan lupa dengan poin-poin pada sosialisasi BK tersebut dan tidak mengiraukan terhadap batasan-batasan yang telah disampaikan pada saat sosialisasi BK.
Beberapa hal yang telah dijelaskan tersebut mungkin akan lebih baik jika bisa diatasi. Ada poin-poin penting yang bisa membantu menyelaraskan para siswa dan guru BK agar anggapan yang salah ini bisa dibenarkan, yakni sebagai berikut:
1.      Bukan hanya siswa yang bermasalah saja yang  datang atau didatangkan  kepada BK. Bimbingan Konseling ini bukan bengkel bagi para siswa yang ‘rusak’. Konseling juga membantu menyelesaikan masalah-masalah lain pada siswa seperti masalah hubungan dengan teman, hubungan dengan guru yang lain, hingga masalah pribadi yang menghambat lancarnya proses pembelajaran di sekolah. Hartono dan Soedarmadji (2012) mengemukakan ada lima fungsi konseling yaitu: a.fungsi pemahaman; b.fungsi pencegahan; c.fungsi pengentasan; d.fungsi pemeliharaan; e.fungsi advokasi. Seharusnya kelima fungsi tersebut bisa dijalankan secara maksimal sehingga fungsi Bimbingan Konseling di sekolah sesuai dengan fungsi pokok konseling. Dengan itu, proses konseling bisa merata terhadap para siswa dari setiap kalangan.
2.      Anggapan bahwa guru BK itu adalah momok, tukang hukum, musuhnya siswa nakal, dan sebagainya merupakan anggapan yang kurang benar. Para siswa perlu memahami bahwa seorang guru BK itu adalah orang yang membantu siswa untuk mengatasi masalah-masalah para siswa, dari yang sederhana hingga yang serius atau komplek. Para siswa yang tidak nakal pun bisa mengunjungi guru BK untuk sekedar bercerita tentang masalah psikologis apa pun yang dihadapinya. Guru BK juga bisa membantu menangani masalah seorang siswa yang walaupun keilhatannya biasa saja namun menjadikannya terhambat seperti masalah kebiasaan belajar hingga larut malam, atau bahkan ia bermasalah dengan keluarganya dan hal itu mengganggu proses pembelajaran di sekolah. Guru BK selalu siap untuk membantu para siswa menangani masalah psikologis yang dihadapi.
3.      Pemahaman yang tepat mengenai  makna Bimbingan Konseling di sekolah. Seperti yang telah disampaikan pada poin sebelumnya bahawa guru BK siap untuk membantu menangani masalah psikologis yang dihadapi para siswa. Proses konseling di sekolah pada intinya adalah membantu menangani masalah psikologis para siswa. Masalah psikologis yang dimaksud ialah segala hal yang menjadikan kondisi mental para siswa tidak tenang seperti trauma, stress, konflik, frustasi hingga depresi. Kenakalan para siswa tentunya menjadi objek konseling guru BK. Kenakalan para siswa bisa saja terjadi disebabkan oleh beberapa hal tersebut dari berbagai latar belakang yang berbeda. Maka perlu pemahaman yang tepat mengenai makna Bimbingan Konseling di sekolah agar para siswa bisa mendapat bantuan dalam menangani masalah psikologisnya dan proses pembelajran di sekolah bisa berjalan maksimal.
4.      Memberikan penampilan yang menarik, sesuai dan sebisa mungkin untuk familiar dengan para siswa dan guru. Seorang guru BK adalah guru yang selayakanya bisa berinteraksi dengan siswa maupun guru dan karyawan di sekolah. Lebih baik jika seorang guru BK itu komunikatif dan interaktif, aktif berinteraksi dengan para siswa. Karena hal itu bisa menjadikan anggapan negatif terhadap guru BK berkurang. Seorang guru BK seharusnya tidak terlalu membatasi hubungan antara guru dan siswa. Guru sebgai penerima aspirasi siswa dan para siswa berhak menyampaikan aspirasinya. Para siswa juga berhak menceritakan masalah-masalah yang menghambat proses pembelajarannya di sekolah, sehingga guru mengerti mengapa ia mengalami masalah dan apa yang menyebabkan masalah itu di sekolah. Jika guru BK lebih familiar, komunikatif, dan aktif berinteraksi dengan para siswa maka proses konseling bisa maksimal dan berjalan lancar.
5.      Publikasi tentang Bimbingan Konseling kepada para siswa sejak awal dan publikasi rutin untuk tetap menyampaikan program-program BK. Publikasi yang dimaksud ialah pemberitahuan atau sosialisasi kepada para siswa terkait program Bimbingan Konseling di sekolah. Publikasi atau sosialisasi ini tidak cukup hanya dilakukan di awal tahun atau awal masuk sekolah. Ada baiknya jika penjelasan dan sosialisai program BK dilaksanakan setiap tiga bulan sekali, atau mungkin sebulan sekali. Hal litu ditujukan untuk memaksimalkan efektifitas konseling Bimbingan Konseling di sekolah. Jika publikasi berjalan maksimal, maka para siswa sedikit kemungkinannya untuk tidak memahami tentang BK di sekolah. Para siswa tidak akan merasa BK adalah momok dan sebagainya. Mereka akan mulai akrab dengan Bimbingan Konseling.
Jika beberapa hal yang telah dijelaskan dapat dilaksanakan dengan maksimal, maka anggapan negatif atau anggapan salah yang perlu dibenarkan bisa terealisasi dan Bimbingan Konseling di sekolah bisa maksimal, efektif, dan merata terhadap semua kalangan siswa.

Kesimpulan
Dari pemaparan atau penjelasan yang disebutkan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1.      Anggapan yang salah mengenai BK di sekolah mencakup kenakalan siswa, peran dan fungsi guru BK dan pemahaman tentang Bk di sekolah
2.      Perlu adanya pemahaman bersama antara siswa dan guru mengenai BK di sekolah dan perlu adanya sosialisasi yang rutin agar BK bisa terlaksana secara maksimal dan menyeluruh.
3.      Interaksi yang tepat dan tidak terlalu membatasi antara guru BK dan para siswa akan membantu memaksimalkan BK di sekolah, karena setiap siswa tentu punya masalah psikologis masing-masing yang berbeda

Daftar pustaka
Chaplin, J.P. ( 2005). Kamus Lengkap Psikologi (penerjDr.Kartini Kartono). Jakarta: Raja Grafindo.
Penyusun, Tim (1988). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Hartono &Soedarmadji. (2012). Psikologi Konseling. Jakarta:Kencana
Sobur, Alex. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia

Selasa, 04 November 2014

“Psychlogy is the great !”




Belajar Psikologi, menurut saya adalah sangat menarik. Ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan ini memang unik. Karena objek yang dikaji adalah jiwa.  Sedangkan jiwa adalah hal yang abstrak, tak nyata. Yang nampak dari gejala-gejala kejiwaan ini adalah perilaku. Memang, manusia adalah makhluk yang hebat. Manusia mempunyai rasa keingintahuan yang terus berkembang, hingga dia ingin mengetahui tentang dirinya sendiri.
 
Kemudian, manusia mulai mengamati perilaku-perilaku manusia lainnya. Dia mengamati apa, mengapa, dan bagaimana manusia berperilaku. Mereka mengamati manusia dari setiap kalangan, berbagai umur mulai sejak lahir hingga tua.
Kita sebagai ummat Islam, mungkin perlu juga untuk mengetahui, bahwa dalam kitab suci pedoman kita yaitu Al Qur’an juga membahas tentang jiwa ini. Al Qur’an telah menyebutkan tentang  jiwa berupa kata “ruh”  atau “nafsu”  di beberapa surat, diantaranya :
a.       Surat Al Israa’ ayat 85
Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit”.
b.      Surat Yusuf ayat 53
Dan aku tidak (menyatakan) diiriku bebas (dari kesalahan) nafsu/ jiwa selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu/jiwa) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang
c.       Surat Al Fajr ayat 27-30
Wahai jiwa yang tenang(27)Kembalilah pada Tuhanmu dengan ridha dan diridhaiNya(28)Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu(29)Dan masuklah ke dalam surgaKu 
Jiwa juga dibuat sumpah oleh Allah dalam Al Qur’an, diantaranya:
a.       Surat Al Qiyamah ayat 2
Dan aku bersumpah demi jiwa yangselalu menyesali (diri sendiri)
b.      Asy Syams ayat 7
Demi jiwa serta penyempurnaan(ciptaan)Nya

Sekedar cerita, ketika saya akan mendaftar masuk Universitas lewat  jalur SNMPTN, tentunya saya harus memilih jurusan kuliah saya. Saya  memilih jurusan Psikologi. Saya memilih jurusan itu bukan hanya untuk mencari iijazah dan pekerjaan untuk masa depan, tetapi lebih pada fungsinya dan manfaatnya. Dengan ilmu itu saya bisa mengetahui kepribadian orang lain, bisa memahami orang lain, juga bisa membantu menyelesaikan masalahnya. Saya ingin bermanfaat bagi orang lain. Dan yang terpenting, saya bisa mengerti tentang diri ini, untuk apa dan harus bagaimana saya berperilaku dan bersikap, juga apa makna terdalam dari diri ini, seperti tujuan dari Humanistik.
            Ternyata, sedikit demi sedikit saya mulai bisa memanivestasikan materi-materi yang telah saya dapat. Dengan mempelajari tentang strukturalisme dan fungsionalisme, saya bisa mengintropeksi, mengevaluasi, dan mem-planning diri saya. Dengan mempelajari tentang psikoanalisis, saya memahami perbuatan dan sikap yang saya lakukan. Saya mulai mengetahui mana ego saya, dan mana super-ego saya. Dengan mempelajari Behaviorisme, saya mengetahui perilaku yang telah menjadi kebiasaan saya. Dan dengan mempelajari Humanistik, saya mengetahui potensi dan eksistensi manusia di dunia ini yang menjadi hamba pada Tuhannya.
            Setiap materi yang  dipelajari, bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan yang saya jalani di Universitas ini adalah proses belajar. Bukan hanya perkuliahan saja, mungkin juga setiap perilaku kita adalah hasil belajar kita lewat indera kita di masa kini ataupun masa lalu, sebagaimana teori Walker dalam bukunya Conditioning and Instrumental Learning(1967) mengenai pengertian belajar yaitu “perubahan perbuatan sebagai akibat dari pengalaman“. Bagaimana orang bisa lupa,  bagaimana orang bisa susah melupakan kejadian masa lalunya, dan bagaimana kita bisa merencanakan apa yang akan kita lakukan adalah aplikasi dari materi belajar dan mengingat/mengahafal.
            Manfaat Psikologi dalam kehidupan sehari-hari memang terasa dan terealisai dalam kehidupan sehari-hari. Manusia tak mungkin bisa hidup sendiri. Dia pasti membutuhkan orang lain. Dia juga pasti berinteraksi dengan orang lain. Untuk menjalin interaksi yang bagus itulah, manusia juga membutuhkan Psikologi.

Ketika saya bergaul dengan orang-orang di sekitar saya, saya mulai merasakan itu. Saya berusaha memahami orang lain. Ketika teman-teman saya berada dalam masalah, dia bercerita dan meminta solusi kepada saya. Saya mulai mencoba untuk menerka apa yang sedang dialami oleh teman saya itu. Saya mencoba membuka rasa empati agar saya bisa merasakan seandainya sayabeerada dalam masalah itu. Sedikit demi sedikit, saya bisa membantu masalahnya. Hubungan saya dengan teman-teman saya pun mulai jadi lebih baik dan lebih akrab. Saya juga merasa sedikit lebih mudah untuk menjadi akrab dengan orang lain.
Selain itu, ternyata saya juga telah mulai memahami contoh konkrit beberapa pelajaran psikologi, diantaranya adalah emosi, persepsi, sensasi, kognisi, perasaan, dan penalaran. Pada seorang pria yang sedang jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan seorang wanita ada pelajaran itu semua. Ketika baru melihat dan mengetahui wanita, pria ini menggunakan alat indera untuk mengenal, itulah yang dinamakan proses persepsi. Kemudian dia memikirkan dan bernalar-yang merupakan kognisi- tentang wanita yang diamatinya itu. Selanjutnya, muncullah suatu sensasi yang berupa aksi pria berdasarkan perasaan yang timbul dari dirinya dan apa yang dipersepsikannya. Timbul rasa cinta kepada Si “dia”, marah bila kita atau dia diganggu, takut jika kehilangan dia, dan  sebagainya adalah contoh riil dari salah satu pelajaran psikologi, yaitu emosi.
Walaupun masih sedikit yang saya dapatkanda n saya pelajari dari psikologi, tetapi saya merasakan manfaat yang nyata dari ilmu psikologi ini. Pada awal pertemuan kuliah, setiap mahasiswa di kelas diberi pertanyaan “Mengapa anda masuk psikologi ?” Ketika tiba giliran saya mendapat pertanyaan itu, saya menjawab “Karena Psikologi  adalah ilmu yang hebat. Orang yang bisa memahami, menerapkan, dan menguasai  Psikologi adalah orang yang hebat dan luar biasa”. Mungkin, jawaban saya yang tanpa pikir panjang itu ada benarnya juga. Dan itulah salah satu keinginan saya. “Psychlogy is the great !”.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Siapa Ingin Bercerita Bulan Lalu Lagi ?




Setelah sebulan, malam dan siang betemu. Mereka berdua juga bertemu al-qur’an, masjid, para pakaian juga makanan. Mereka berkumpul bersama perut, tangan, kaki dan mulut. Mereka kemudian bercerita satu-persatu. Cerita mereka adalah tentang satu bulan yang telah lalu.
Malam mengawali cerita “Bulan lalu, aku ramai. Ramai oleh manusia. Manusia banyak melakukan aktifitas sejak aku datang. Manusia melakukan aktifitas masing-masing ada yang sampai aku akan bergantian dengan kamu.”
Kemudian siang melanjutkan cerita “Sejak aku datang menggantikan kamu, suasana mulai tenang. Walaupun para manusia masih melakukan aktifitas, tapi aktifitas mereka tidak seramai pada bulan-bulan yang lain. Mereka lebih banyak tidur. Karena tidur mereka –pada bulan lalu-  dapat bernilai ibadah.”
Sejenak berhenti, al-qur’an bercerita setelahnya ”Aku lebih sering dibaca dan diperdengarkan. Pagi, sore hingga malam mereka banyak membacaku. Mereka lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan membaca diriku. Tapi sekarang, tidak seperti bulan lalu.”
Para pakaian juga selanjutnya. Dari golongan busana muslim bercerita “Kami beserta teman-teman yang sejenis dengan kami banyak dipakai manusia untuk beribadah, mereka lebih banyak menutup aurat daripada di bulan-bulan lain. Sekarang, sepertinya sama dengan bulan-bulan lain. Manusia tetap saja memakai jenis kami yang tidak bisa digunakan untuk menutup aurat.”
Masjid mendapat giliran berikutnya “Kalau aku bulan lalu lebih ramai dari sebelumnya. Saat pagi, sore dan malam manusia mendatangiku lebih banyak dari biasanya. Mereka berbondong-bondong untuk melakukan serangkaian kegiatan beribadah bersama-sama. Aku saat itu merasa senang sekali sebulan lalu. Tapi sekarang, tidak lagi.”
Makanan juga bercerita tentang bagaimana sebulan lalu. “Kami banyak dibagi-bagikan untuk kebersamaan. Saat matahari tenggelam, banyak manusia membagi-bagikan kami ke sesamanya yang membutuhkan atau untuk sebuah kebersamaan jam awal diperbolehkannya mulut terisi. Sunggu indah bulan lalu. Namun sekarang, entah.”
Dari anggota tubuh, perut membuka cerita “Pada bulan lalu, aku bisa beristirahat dahulu. Aku lebih santai karena aku baru terisi mulai tenggelamnya matahari hingga fajar tiba. Sedangkan pada bulan-bulan yang lain aku bekerja penuh selama siang dan malam,  termasuk pada bulan ini.”
Tangan berikutnya yang bercerita “Aku dan saudaraku itu banyak bergerak untuk memberikan sedekah seperti ta’jil berupa makanan ringan atau minuman dan sebagainya. Kuberikan juga senilai uang ke kotak amal, pakaian juga kuberikan, dan berbagai barang-barang yang berguna. Aku juga lebih sering  memegang qur’an untuk dibaca banyak manusia. Sekarang aku sibuk untuk bermacam-macam hal lain, entah itu baik atau tidak. Aku lebih lelah sekarang.”
Cerita selanjutnya yaitu dari kaki “Kami berdua sering sekali digunakan melangkah ke tempat-tempat beribadah, seperti musholla atau masjid. Kami melangkah bergantian dengan riang gembira karena langkah kami untuk beribadah diberi pahala yang berlipat ganda. Itu hanya terjadi di bulan lalu, bukan bulan yang lain.”
Mulut menjadi peserta cerita dari anggota tubuh yang terakhir “Aku lebih terjaga dari hal-hal yang tidak berguna seperti omongan-omongan manusia yang menceritakan hal-hal buruk manusia lainnya. Aku merasa senang dengan ucapan ucapan baik yang keluar dariku. Aku juga terasa segar karena aku banyak digunakan untuk membaca ayat-ayat suci. Itu pun juga ada di bulan lalu. Betapa menyenangkan bulan lalu. Aku ingin setiap bulan seperti bulan lalu”
Suasana menjadi hening. Mereka masih ingat bagaimana indahnya bulan lalu. Bulan lalu begitu meriah oleh kebaikan. Kebaikan seperti lautan yang tumpah di daratan. Di daratan maupun di lautan berlimpah-ruah kebaikan. Tidak peduli walau ada beberapa manusia di sana malah menjadi kejam, padahal setan sudah dibelenggu. Kebaikan demi kebaikan dilipatgandakan. Ya, itu bulan lalu dan ini cerita-cerita penuturan dari beberapa makhluk. Siapa ingin bercerita bulan lalu lagi ?

Minggu, 27 Juli 2014

Telah Dimudahkan Untuk Diingat, Maka Siapa Yang Akan Mengingat ?




Sungguh, mutiara yang tersimpan dalam ingatan fikiran dan terukir dalam hati. Sebuah kitab suci yang diturunkan sebagai mukjizat dari Nabi Pamungkas, Muhammad SAW. Berbagai  fenomena menakjubkan muncul di akhir zaman. Ada diantaranya yang membuat kita kagum atau tercengang, tetapi menjadi sebuah kebanggaan.
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS.Al-Hijr:9)”. Al-qur’an benar-benar akan dijaga, baik kemurnian maupun kesuciannya. Di zaman yang hampir dikuasai oleh teknologi ini, tak bisa dipungkiri akan kemungkinan Al-qur’an itu bisa dirubah -banyak ataupun sedikit- isinya.  Alqur’an bisa dijadikan data digitial, dipindah dan dimasukkan ke dalam berbagai macam gadget. Namun, tetap saja bahwa Al-qur’an akan tetap terjaga dan terpelihara. Semua teknologi itu hanyalah buatan manusia. Manusia pun juga bisa menjaga data Al-qur’an lewat ingatan terbaiknya. Ya, begitu jeli dan detailnya ingatan terbaik manusia untuk mengingat Al-qur’an dengan kemurniannya secara utuh. Ingatan itu tersimpan pada orang-orang terpilih dengan berbagai usia, kecil hingga tua.
Ada seorang anak kecil berumur 5,5 tahun yang telah menghafal Al-qur’an 29 juz. Dengan wajah polosnya ia melantunkan surat yang telah ia pilih sebelumnya untuk dibaca. Suaranya begitu merdu dan kepolosannya membuat orang-orang yang melihat dan mendengarkannya tersntuh, terharu, hingga meneteskan air mata tanda takjub dan begitu kagumnya akan ayat-ayat qur’an yang dilantunkan. Seolah-olah seorang anak ini menyulap suasana batin seluruh pemirsa. SUBHANALLAH. Ada lagi yang berumur 21 tahun telah menyelesaikan hafalannya, beserta terjemahan dan memahami sebab turunnya sebuah ayat Al-qur’an. Itu dilakukan dalam dua bulan, iya dua bulan. SUBHANALLAH. Dari kalangan orang tua, ada banyak sekali orang-orang sholeh yang masih menjaga kemurnian dan kesucian Al-qur’an hingga meninggal dalam keadaan membaca Al-qur’an. SUBHANALLAH.
Al-qur’an, dengan segala kekuatannya menjadikan pilar dan kehormatan bagi seseorang; dan dengan mukjizatnya membuat mudah untuk dihafal bagi segala macam orang. Dengan kelembutannya, menjadikan amarah menjadi kasih sayng dan rahmat. Maka Al-qur’an telah sungguh dimudahkan untuk dihafal. “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS.Al-qomar:22). Jadi, beruntunglah orang  yang merasakan kemudahan ini dan menggunakannya sebagai kekuatan untuk menghafal qur’an.
Sungguh beruntung orang yang menghafal qur’an. Mereka menjadi para pasukan Allah untuk  menjaga mukjizat terbesar zaman ini.  Mereka menjadi orang-orang yang dikhususkan oleh Allah. Mereka menjadi orang-orang pilihan Allah. Mereka dirahmati Allah, diberkahi Allah, dan mereka akan diridhoi Allah. Bagaimana tidak, siapa yang ingin hidupnya dijamin ? Siapa yang ingin dalam kehidupannya selalu ditunjukkan pada kebaikan ? Siapa yang ingin segala urusannya ditanggung oleh Allah ? Siapa yang ingin mendapat kemuliaan dalam hidupnya ? Dan siapa yang ingin mendapat ridho Allah ? Inilah renungan sekaligus motivasi awal bagi kita sebagai umat yang percaya dengan Al-qur’an.