Proses dan porsi pembelajaran dalam pendidikan tidak selalu sama rata
semuanya bagi setiap peserta didik. Ada beberapa anak atau siswa yang mempunyai
kemampuan khusus ataupun di atas rata-rata siswa atau anak-anak pada umumnya. Itulah
mereka yang disebut anak berbakat. Ada pendidikan khusus bagi anak berbakat
dengan pembelajaran yang tentu berbeda. Kebanyakan orang memandang siswa yang
punya kecerdasan di atas rata-rata adalah siswa yang berbakat.
Apakah sebenarnya seperti itu ? Chaplin (2002) mengartikan bakat
sebagai kapasitas untuk berprestasi. Sebenarnya banyak aspek dalam istilah ‘anak
berbakat’. Lyman (dalam Fudyartanta, 2005) mendefinisikan bakat sebagai
kombinasi karakteristik alami dan yang dipelajari yang mengidikasikan kapasitas
seseorang untuk mengembangkan kecakapannya dalam beberapa keterampilan. Freeman
(dalam Fudyartanta, 2005) mengemukakan bahwa bakat adalah suatu kombinasi
karakteristik yang berkapasitas individual untuk memperoleh (melalui latihan) beberapa
pengetahuan khusus, ketrampilan atau suatu respon yang terorganisir. Misalnya kemampuan
berbahasa, menjadi pemusik ataupun kemampuan mekanik.
Ternyata ada cukup banyak anak yang berbakat selain di bidang
intelegensi. Bakat mereka bermacam-macam. Ada bakat seni seperti seni lukis,
seni tari dan sebagainya. Adapula bakat seperti rasa empati (memahami orang
lain), interaksi social, kecakapan berbicara dan lainnya. Memimpin juga
merupakan bakat. Jadi, bakat tidak sebatas pada kemampuan kognisi atau integelensi
saja.
Al-Qur’an yang
menjadi kitab suci umat Islam juga bisa menjadikan seseorang berbakat. Ada beberapa
hal dalam Al-Qur’an yang menjadikan seseorang berbakat. Ada anak kecil yang hafal Al-Qur’an, ada yang
pintar melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan berbagai lagu qiro’ah dan masih
banyak beberapa contoh anak berbakat lainnya. Lantas, apakah bakat-bakat yang
bisa didapat dari Al-Qur’an ada dalam bentuk-bentuk bakat yang dikemukakan oleh
tokoh-tokoh tersebut ? Berikut uraian penjelasannya.
Tahfidz 30 juz
Tahfidz adalah kata bahasa arab yeng berasal dari kata dasar chafidzo
yang mempunyai arti menghafal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia menghafal
adalah berusaha meresapkan ke dalam pikiran agar selalu ingat. Hafal Al-Qur’an 30
juz setebal ratusan halaman merupakan suatu kemampuan kognisi yang luar biasa,
apalagi itu terjadi pada masa anak-anak. Musa bin Abi La ode dari Bangka
Belitung telah menghafalkan Al-Qur’an 30 juz. Belum genap usianya mencapai enam
tahun, ia telah menyelesaikan hafalan 30 juz dari Al-Qur’an. Ia dikukuhkan
sebagai hafidz (penghafal qur’an) termuda saat perlombaan tahfidz
internasional di Arab Saudi tahun 2014 kemarin.
Salah satu aspek dalam bakat adalah kemampuan kognisi serta
intelegensi tinggi. Hafalan juga merupakan bagian dari intelegensi. Oleh karena
itu, seorang anak yang sudah bisa hafal Al-Qur’an setebal ratusan halaman dikatakan
sebagai anak berbakat. Tentunya bakat ini tidak langsung didapatkan seketika
itu. Ada potensi pada anak kecil saat lahir yang diketahui oleh orang tuanya. Kemudian
ada proses yang dijalani untuk mencapai bakat ini.
Qiro’ah
Qiro’ah juga kata berbahasa arab yang berasal dari kata dasar qoro’a
yang mempunyai arti dasar membaca. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia membaca
diartikan sebagai melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan
melisankan atau hanya dalam hati). Namun qiro’ah yang dimaksudkan bukan hanya sekedar membaca. Qiro’ah
secara singkat yaitu membaca
ayat-ayat Al-Qur’an dengan kaidah lagu-lagu tertentu. Tidak semua orang bisa qiro’ah
ini. karena itu seorang Qori’ dalam dunia Islam diberi penghargaan
tinggi.
Syamsuri Firdaus, seorang remaja berusia 16 tahun asal Bima, Nusa
Tenggara Barat (NTB) adalah qori internasional terbaik kategori anak-anak pada
MTQ (Musaabaqoh Tilawatil Qur’an) tahun 2014. Bakat yang dimiliki oleh
bocah yang baru besar ini adalah suaranya yang merdu dilantunkan dalam qiro’ah.
Dalam membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan qiro’ah, ada banyak hal
yang harus dikuasai dan dipersiapkan. Qiro’ah ini juga termasuk seni suara
dalam membaca Al-Qur’an.
Kemampuan seni (termasuk seni suara) merupakan salah satu dari
aspek berbakat yang dibagi oleh Cohn
yaitu : kemampuan intelektual, kemampuan aristik (seni) dan kemampuan sosial. Bakat
qiro’ah dari Syamsuri Firdaus adalah salah satu contoh potensi bakat
yang dikembangkan dengan maksimal yaitu seni suara.
Doktor cilik Al-qur’an
Berikutnya yaitu Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i seorang bocah yang mendapatkan
gelar Doktor di Hijaz Collage Islamic University. Husein adalah doktor cilik yang hafal dan paham al-Qur’an. Ia mendapatkan gelar doktoral ketika baru berusia tujuh tahun. Gelar
doktoral yang diterimanya bukan hanya karena hafal Al-Qur’an. tetapi juga mampu menerjemahkan arti dari setiap ayat ke dalam bahasa Persia,
memahami makna ayat-ayat tersebut, dan bisa menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari. Bahkan, Husein mampu mengetahui dengan pasti di
halaman berapa letak suatu ayat, dan di baris ke berapa, di kiri atau sebelah
kanan halaman al-Qur’an, atau menyebutkan ayat-ayat dalam satu halaman secara
terbalik, mulai dari ayat terakhir samapai ke ayat pertama.Ia juga mampu menafsirkan
dan menerangkan ayat al-Qur’an dengan menggunakan ayat lainnya dan metode
menerangkan makna al-Qur’an dengan metode isyarat tangan. Ini adalah sebuah contoh nyata komplesitas bakat dalam Al-Qur’an
yang dimiliki oleh seorang anak berusia tujuha tahun.
Kemampuan verbal maupun isyarat, kemampuan intelektual, kemampuan
bahasa dan kecakapan serta kreatifitas dalam ingatan adalah sebuah kompleksitas
yang dikemukakan oleh para tokoh mengenai bakat. tentunya tak mudah didapatkan.
Kemampuan yang beragam ini telah dilatih sejak kecil. Sejak berusia dua tahun,
Husein telah belajar Al-Quran dan selesai menghafal 30 juz pada usia lima tahun
kemudian mengembangkan ke-Al-Qur’an-annya hingga mencapai prestasi gemilangnya
pada usia tujuh tahun. Jadi, pada intinya bakat tidak langsung muncul pada
seorang anak namun harus terus diasah agar semakin meningkat.
Dari penjelasan-penjelasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan
bahwa Al-Qur’an juga bisa membuat seorang anak berbakat sejak kecil. Setiap orang
yang beragama Islam pasti punya potensi dan kesempatan untuk mendapatkan
berbagai bakat dari Al-Qur’an, tinggal bagaimana ia mengembangkan potensi dan
kesempatan tersebut dengan maksimal sehingga ia mendapatkan gelar “Berbakat
dengan Al-Qur’an. Semoga kita umat Islam yang tetap berpegang teguh dengan
Al-Qur’an bisa mendapatkan manfaat dan kesuksesan hidup dengan Al-Qur’an.
Al-Qur'an memang sumber segala sumber Gus...
BalasHapus