Kesalahan pertama, adalah pilihan. Awalnya
aku akan dipilih sebagai ketua panitia pelaksana Musyawarah Tahunan Anggota (Syata).
Selama menjadi anggota, aku belum pernah menjabat panitia lebih dari
sie.konsumsi. Kalau untuk menjadi ketua, pada kesempatan-kesempatan yang lain
sebelumnya memang pernah. Tapi aku ingin tahu ada apa dibalik ini. Maka
kuselidiki ke teman-teman senior yang merancang ini.
Ternyata ini sebuah ‘perangkap’
bagiku. Ya, aku menyebutnya sebagai perangkap karena ini sudah direncanakan
oleh mereka. Seperti halnya perangkap yang tujuannya mengunci atau mengepung
ataupun menghentikan gerak, itu juga menjadi harga mati. Jika aku menyetujui
untuk menjadi ketua pelaksana, ada kemungkinan aku tidak menjadi ketua umum dan
sebaliknya jika aku tak menyetujui, aku akan dijadikan kandidat ketua umum. Sulit
memang, aku akan menghadapi kenyataan yang cukup berat. Namun aku harus memilih
salah satu persetujuan.
Lari dari keduanya ? itu merupakan
cara para pecundang yang tak mau melihat
mentari esok hari, terus berlari dari jalan baru yang belum tentu membuatnya
menjadi tersesat. Dengan lari dari
urusan tersebut, aku juga akan dihantui oleh momok-momok selanjutnya pada
acara-acara besar yang sudah terjadwal. Cara halus mereka untuk melancarkan ‘perangkap’
kepadaku, membuatku tak punya alternatif pilihan.
Aku memilih resiko yang lebih ringan,
pilihan pertama dari kedua pilihan. Kulaksanakan amanah sebagai ketua pelaksana
Musyawarah Tahunan sambil bergelut dengan tugas-tugas akhir kuliah. Aku lebih
memilih kerja lapangan, begitu satu rencana matang langsung eksekusi
dilaksanakan. Itulah kinerjaku bersama kawan-kawan sejumlah kurang lebih dua
puluh calon orang sukses. Perangkap yang telah kuprediksi ternyata malah
membuatku terperangkap dua rangkap. Kenyataan yang berat, kerja keras untuk
pelaksanaan Musyawarah Tahunan yang acara puncaknya yaitu pemilihan ketua umum
yang baru mengejutkan urat nadiku dengan terpilihnya aku sebagai ketua umum
yang baru.
Iya, aku terjerat dua perangkap
sekaligus. Sial, ucapku dalam hati yang terbawa emosi. Emosiku meluap menjadi
air mata kedua kalinya yang menetes saat lagu mars dikumandangkan. Adapun yang
pertama, motivasi Ust.Syafa’at telah berhasil membuatku menangis kala para
audien semangat gembira. Bagiku, ini merupakan kekalahan siasat dan merupakan
kesalahan pilihan. Namun ada hal yang penting, dari kesalahan ini aku belajar
bagaimana mengemban amanah dan tanggung jawab semampu mungkin dengan tampilan
apa adanya. Tapi, aku baru tahu kalau ternyata akan muncul sebuah kenangan yang
sangat indah dalam kebersamaan keluarga Allah para penghafal Qur’an. Segala maaf
tak cukup terucap atas setiap salah dan khilaf selama aku mengemban amanah
menjadi ketua. Ucapan terima kasih membanjiri dari hati kepada kalian semua
atas ‘kesalahan’ ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar