Sabtu, 18 Juli 2015

Pengakuan (maaf) atas HTQ




#part 1
Kesalahan pertama, adalah pilihan. Awalnya aku akan dipilih sebagai ketua panitia pelaksana Musyawarah Tahunan Anggota (Syata). Selama menjadi anggota, aku belum pernah menjabat panitia lebih dari sie.konsumsi. Kalau untuk menjadi ketua, pada kesempatan-kesempatan yang lain sebelumnya memang pernah. Tapi aku ingin tahu ada apa dibalik ini. Maka kuselidiki ke teman-teman senior yang merancang ini.
Ternyata ini sebuah ‘perangkap’ bagiku. Ya, aku menyebutnya sebagai perangkap karena ini sudah direncanakan oleh mereka. Seperti halnya perangkap yang tujuannya mengunci atau mengepung ataupun menghentikan gerak, itu juga menjadi harga mati. Jika aku menyetujui untuk menjadi ketua pelaksana, ada kemungkinan aku tidak menjadi ketua umum dan sebaliknya jika aku tak menyetujui, aku akan dijadikan kandidat ketua umum. Sulit memang, aku akan menghadapi kenyataan yang cukup berat. Namun aku harus memilih salah satu persetujuan.
Lari dari keduanya ? itu merupakan cara para pecundang  yang tak mau melihat mentari esok hari, terus berlari dari jalan baru yang belum tentu membuatnya menjadi tersesat. Dengan lari  dari urusan tersebut, aku juga akan dihantui oleh momok-momok selanjutnya pada acara-acara besar yang sudah terjadwal. Cara halus mereka untuk melancarkan ‘perangkap’ kepadaku, membuatku tak punya alternatif pilihan.
Aku memilih resiko yang lebih ringan, pilihan pertama dari kedua pilihan. Kulaksanakan amanah sebagai ketua pelaksana Musyawarah Tahunan sambil bergelut dengan tugas-tugas akhir kuliah. Aku lebih memilih kerja lapangan, begitu satu rencana matang langsung eksekusi dilaksanakan. Itulah kinerjaku bersama kawan-kawan sejumlah kurang lebih dua puluh calon orang sukses. Perangkap yang telah kuprediksi ternyata malah membuatku terperangkap dua rangkap. Kenyataan yang berat, kerja keras untuk pelaksanaan Musyawarah Tahunan yang acara puncaknya yaitu pemilihan ketua umum yang baru mengejutkan urat nadiku dengan terpilihnya aku sebagai ketua umum yang baru.
Iya, aku terjerat dua perangkap sekaligus. Sial, ucapku dalam hati yang terbawa emosi. Emosiku meluap menjadi air mata kedua kalinya yang menetes saat lagu mars dikumandangkan. Adapun yang pertama, motivasi Ust.Syafa’at telah berhasil membuatku menangis kala para audien semangat gembira. Bagiku, ini merupakan kekalahan siasat dan merupakan kesalahan pilihan. Namun ada hal yang penting, dari kesalahan ini aku belajar bagaimana mengemban amanah dan tanggung jawab semampu mungkin dengan tampilan apa adanya. Tapi, aku baru tahu kalau ternyata akan muncul sebuah kenangan yang sangat indah dalam kebersamaan keluarga Allah para penghafal Qur’an. Segala maaf tak cukup terucap atas setiap salah dan khilaf selama aku mengemban amanah menjadi ketua. Ucapan terima kasih membanjiri dari hati kepada kalian semua atas ‘kesalahan’ ini.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar