#Part 2
Baiklah, percuma
meratapi dan memaki-maki kenyataan saat ini. Pada kenyataannya memang akulah
yang terpilih menjadi ketua, bagaimanapun kronologinya. Pada hari Jum’at tanggal dua belas di bulan dua belas,
ikrar itu serentak kami ucapkan. Itulah salah satu tali pengikat kebersamaan
yang akan menjadi rangkaian cerita indah kita.
Awalnya aku
memang tak kenal dan tak tahu siapa kalian. Aku juga tak tahu kalau nantinya
aku akan menjadi dekat dan akrab dengan kalian. Amanah ini kujalankan seadanya
tanpa banyak gaya. Aku ingin menjalankannya dengan gayaku sendiri tanpa rekayasa
karena aku ingin tampil apa adanya diriku tanpa bertopeng sebab itu sama saja
dengan membohongi diri sendiri.
Akhir tahun
merupakan agenda besar pertama yang
harus kujalani. Aku sangat salut dengan teman-teman panitia yang
bersedia mengorbankan waktu liburannya untuk melayani para mahasiswa yang
mengisi liburannya dengan Qur’an. Obsesi dan ambisi adalah bagus jika tujuannya
positif dan dilaksanakan dengan rapi serta sesuai atau tepat. Namun sebaliknya
jika dilakukan kurang tepat, akan sulit untuk menjadikan suksesnya rangkaian
acara yang diharapkan. Itulah yang terjadi dimana panitia inti kurang harmonis
karena dua hal yang telah kusebutkan seharusnya dijalankan dengan sistem
organisasi yang tertata rapi, dijalankan secara individual oleh orang yang
seharusnya cukup managing, monitoring dan leading. Terjadilah konflik
internal sehingga aku harus turun lapangan.
Aku tak tahu apa
hasil dari luapan emosi, tabah hingga marah, tangis antara salah dan haru,
serta tawa canda atau senyuman pahit, semua yang telah kita usahakan dan kita
kerjakan juga setiap do’a kita, yang jelas itu terasa indah untuk dikenang. Lima
kali tangisan perempuan di depanku merupakan salah satu bukti betapa mereka
benar-benar berusaha menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh. Konflik
internal yang awalnya menjadi perpecahan berakhir dengan terbentuknya keluarga
kecil yang penuh keharmonisan dengan satu tujuan yaitu Al-Qur’an.

Terima kasih
bagi kalian yang telah membuat emosiku tersulut. Terima kasih bagi kalian yang
telah membuatku harus bersikap lembut dan lebih peka dalam perasaan. Maaf bagi
kalian yang selama ini –mungkin hingga membaca tulisan ini- masih tersinggung
bahkan sakit hati. Maafku bagi kalian atas marah dan amarahku, ucapan yang
menusuk, sikap yang tak wajar dan tak pantas, serta setiap keteledoran di even
penting dan malas di saat yang tidak tepat. Terakhir, ma’af dan terima kasih
atas petualangan di awal 2015 dari pantai Papuma sampai balik gunung Bromo,
hehe. Maka kesalahan kedua, tidak tahu
dan perkenalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar