Selasa, 28 Juli 2015

Pengakuan (maaf) atas HTQ


#Part 2

Baiklah, percuma meratapi dan memaki-maki kenyataan saat ini. Pada kenyataannya memang akulah yang terpilih menjadi ketua, bagaimanapun kronologinya. Pada hari  Jum’at tanggal dua belas di bulan dua belas, ikrar itu serentak kami ucapkan. Itulah salah satu tali pengikat kebersamaan yang akan menjadi rangkaian cerita indah kita.
Awalnya aku memang tak kenal dan tak tahu siapa kalian. Aku juga tak tahu kalau nantinya aku akan menjadi dekat dan akrab dengan kalian. Amanah ini kujalankan seadanya tanpa banyak gaya. Aku ingin menjalankannya dengan gayaku sendiri tanpa rekayasa karena aku ingin tampil apa adanya diriku tanpa bertopeng sebab itu sama saja dengan membohongi diri sendiri.
Akhir tahun merupakan agenda besar pertama yang  harus kujalani. Aku sangat salut dengan teman-teman panitia yang bersedia mengorbankan waktu liburannya untuk melayani para mahasiswa yang mengisi liburannya dengan Qur’an. Obsesi dan ambisi adalah bagus jika tujuannya positif dan dilaksanakan dengan rapi serta sesuai atau tepat. Namun sebaliknya jika dilakukan kurang tepat, akan sulit untuk menjadikan suksesnya rangkaian acara yang diharapkan. Itulah yang terjadi dimana panitia inti kurang harmonis karena dua hal yang telah kusebutkan seharusnya dijalankan dengan sistem organisasi yang tertata rapi, dijalankan secara individual oleh orang yang seharusnya cukup managing, monitoring  dan leading. Terjadilah konflik internal sehingga aku harus turun lapangan.
Aku tak tahu apa hasil dari luapan emosi, tabah hingga marah, tangis antara salah dan haru, serta tawa canda atau senyuman pahit, semua yang telah kita usahakan dan kita kerjakan juga setiap do’a kita, yang jelas itu terasa indah untuk dikenang. Lima kali tangisan perempuan di depanku merupakan salah satu bukti betapa mereka benar-benar berusaha menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh. Konflik internal yang awalnya menjadi perpecahan berakhir dengan terbentuknya keluarga kecil yang penuh keharmonisan dengan satu tujuan yaitu Al-Qur’an.
Description: E:\Images\journeys\papumasyauqi\P_20150201_081324_1.jpg
Terima kasih bagi kalian yang telah membuat emosiku tersulut. Terima kasih bagi kalian yang telah membuatku harus bersikap lembut dan lebih peka dalam perasaan. Maaf bagi kalian yang selama ini –mungkin hingga membaca tulisan ini- masih tersinggung bahkan sakit hati. Maafku bagi kalian atas marah dan amarahku, ucapan yang menusuk, sikap yang tak wajar dan tak pantas, serta setiap keteledoran di even penting dan malas di saat yang tidak tepat. Terakhir, ma’af dan terima kasih atas petualangan di awal 2015 dari pantai Papuma sampai balik gunung Bromo, hehe.  Maka kesalahan kedua, tidak tahu dan perkenalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar