Kamis, 30 Juli 2015

Pengakuan (maaf) atas HTQ




#part 3
 “Oke, kita minggu depan berangkat untuk menentukan perjalanan kita selama masa khidmah ini” seruku pada teman-teman. Aku yang baru tahu dan mengenal para pasukan penjaga kitab suci Islam sepanjang zaman mulai memimpin mereka untuk sebuah perkumpulan penting yang akan menentukan langkah kita. Aku berprinsip seperti halnya sandal jepit, kita berjalan bersama beriringan untuk terus mengayunkan kedua kaki  bergantian kanan-kiri seirama dengan indah.
Perkumpulan dalam sebuah kelompok itu memang penting karena ini adalah kepentingan bersama, jadi tak bisa aku memutuskan suatu program atau kegiatan sendirian menurut egoku. Itu adalah kesalahan yang akan berimbas pada banyak orang. Setiap perkumpulan selalu ada kemoloran, itu yang membuatku sedikit jengkel. Namun aku berusaha untuk bertanggung jawab atas kemoloran itu. Awalnya aku bahkan tega mengejek mereka ‘lemot’ karena mereka molor hingga lima puluh menit. Namun ejekanku itu tak seimbang, aku berusaha untuk memotivasi mereka dan pada perkumpulan-perkumpulan setelahnya aku terus memotivasi mereka hingga waktu molor dalam memulai perkumpulan hanya lima menit.
Setiap perkumpulan menghasilkan kesepakatan untuk menjalankan amanah program-program dan kegiatan-kegiatan. Banyak inovasi, improvisasi yang tentunya disertai dengan komitmen dan konsistensi. Itu semua berkat semangat dan kerjasama antar anggota yang mewujudkan istilah ‘kompak’ bagi mereka.  Jogja menjadi saksi perjalanan besar kita untuk menjelajahi bumi Qur’an yang ada di daerah istimewa yang kental budaya itu. Berbagai cerita kebersamaan terjalin setiap langkah dalam satu visi yaitu Al-Qur’an. Perjalanan dan petualangan kecil menjelajahi alam untuk sekedar penyegaran setelah rutinitas kerja keras dalam menjalankan bermacam program kegiatan Qur’any dan pentingnya yaitu mempererat kebersamaan.

 









Terima kasih atas etos kerja kalian yang tinggi dan kesediaan kalian dalam melangkah bersama dan berjalan dengan indah. Dari pantai hingga air terjun adalah saksi alam dan dari setoran rutin selembar hingga sema’an 30 Juz adalah bukti kecintaan kita kepada Qur’an. Kami tetap berusaha menjalankan amanah bersama secara bergantian dan saling mengisi antar lini. Seperti halnya sandal jepit yang selalu saling beriringan mengayunkan langkah yang indah dalam kebersamaan. Sederhana namun sangat indah, itulah kalian. Inilah pengakuanku atas kesalahan selanjutnya, Perkumpulan dan jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar