“Oke, kita minggu depan berangkat untuk
menentukan perjalanan kita selama masa khidmah ini” seruku pada teman-teman. Aku yang baru
tahu dan mengenal para pasukan penjaga kitab suci Islam sepanjang zaman mulai
memimpin mereka untuk sebuah perkumpulan penting yang akan menentukan langkah
kita. Aku berprinsip seperti halnya sandal jepit, kita berjalan bersama
beriringan untuk terus mengayunkan kedua kaki
bergantian kanan-kiri seirama dengan indah.
Perkumpulan
dalam sebuah kelompok itu memang penting karena ini adalah kepentingan bersama,
jadi tak bisa aku memutuskan suatu program atau kegiatan sendirian menurut
egoku. Itu adalah kesalahan yang akan berimbas pada banyak orang. Setiap
perkumpulan selalu ada kemoloran, itu yang membuatku sedikit jengkel.
Namun aku berusaha untuk bertanggung jawab atas kemoloran itu. Awalnya aku
bahkan tega mengejek mereka ‘lemot’ karena mereka molor hingga
lima puluh menit. Namun ejekanku itu tak seimbang, aku berusaha untuk
memotivasi mereka dan pada perkumpulan-perkumpulan setelahnya aku terus
memotivasi mereka hingga waktu molor dalam memulai perkumpulan hanya
lima menit.
Setiap
perkumpulan menghasilkan kesepakatan untuk menjalankan amanah program-program
dan kegiatan-kegiatan. Banyak inovasi, improvisasi yang tentunya disertai
dengan komitmen dan konsistensi. Itu semua berkat semangat dan kerjasama antar
anggota yang mewujudkan istilah ‘kompak’ bagi mereka. Jogja menjadi saksi perjalanan besar kita
untuk menjelajahi bumi Qur’an yang ada di daerah istimewa yang kental budaya
itu. Berbagai cerita kebersamaan terjalin setiap langkah dalam satu visi yaitu
Al-Qur’an. Perjalanan dan petualangan kecil menjelajahi alam untuk sekedar
penyegaran setelah rutinitas kerja keras dalam menjalankan bermacam program
kegiatan Qur’any dan pentingnya yaitu mempererat kebersamaan.
Terima
kasih atas etos kerja kalian yang tinggi dan kesediaan kalian dalam melangkah
bersama dan berjalan dengan indah. Dari pantai hingga air terjun adalah saksi
alam dan dari setoran rutin selembar hingga sema’an 30 Juz adalah bukti
kecintaan kita kepada Qur’an. Kami tetap berusaha menjalankan amanah bersama
secara bergantian dan saling mengisi antar lini. Seperti halnya sandal jepit
yang selalu saling beriringan mengayunkan langkah yang indah dalam kebersamaan. Sederhana
namun sangat indah, itulah kalian. Inilah pengakuanku atas kesalahan selanjutnya,
Perkumpulan dan jalan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar