Minggu, 14 Juni 2015

Berbakat dengan Qur’an





Proses dan porsi pembelajaran dalam pendidikan tidak selalu sama rata semuanya bagi setiap peserta didik. Ada beberapa anak atau siswa yang mempunyai kemampuan khusus ataupun di atas rata-rata siswa atau anak-anak pada umumnya. Itulah mereka yang disebut anak berbakat. Ada pendidikan khusus bagi anak berbakat dengan pembelajaran yang tentu berbeda. Kebanyakan orang memandang siswa yang punya kecerdasan di atas rata-rata adalah siswa yang berbakat.
Apakah sebenarnya seperti itu ? Chaplin (2002) mengartikan bakat sebagai kapasitas untuk berprestasi. Sebenarnya banyak aspek dalam istilah ‘anak berbakat’. Lyman (dalam Fudyartanta, 2005) mendefinisikan bakat sebagai kombinasi karakteristik alami dan yang dipelajari yang mengidikasikan kapasitas seseorang untuk mengembangkan kecakapannya dalam beberapa keterampilan. Freeman (dalam Fudyartanta, 2005) mengemukakan bahwa bakat adalah suatu kombinasi karakteristik yang berkapasitas individual untuk memperoleh (melalui latihan) beberapa pengetahuan khusus, ketrampilan atau suatu respon yang terorganisir. Misalnya kemampuan berbahasa, menjadi pemusik ataupun kemampuan mekanik.
Ternyata ada cukup banyak anak yang berbakat selain di bidang intelegensi. Bakat mereka bermacam-macam. Ada bakat seni seperti seni lukis, seni tari dan sebagainya. Adapula bakat seperti rasa empati (memahami orang lain), interaksi social, kecakapan berbicara dan lainnya. Memimpin juga merupakan bakat. Jadi, bakat tidak sebatas pada kemampuan kognisi atau integelensi saja.
            Al-Qur’an yang menjadi kitab suci umat Islam juga bisa menjadikan seseorang berbakat. Ada beberapa hal dalam Al-Qur’an yang menjadikan seseorang berbakat.  Ada anak kecil yang hafal Al-Qur’an, ada yang pintar melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan berbagai lagu qiro’ah dan masih banyak beberapa contoh anak berbakat lainnya. Lantas, apakah bakat-bakat yang bisa didapat dari Al-Qur’an ada dalam bentuk-bentuk bakat yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh tersebut ? Berikut uraian penjelasannya.
Tahfidz 30 juz
Tahfidz adalah kata bahasa arab yeng berasal dari kata dasar chafidzo yang mempunyai arti menghafal. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia menghafal adalah berusaha meresapkan ke dalam pikiran agar selalu ingat. Hafal Al-Qur’an 30 juz setebal ratusan halaman merupakan suatu kemampuan kognisi yang luar biasa, apalagi itu terjadi pada masa anak-anak. Musa bin Abi La ode dari Bangka Belitung telah menghafalkan Al-Qur’an 30 juz. Belum genap usianya mencapai enam tahun, ia telah menyelesaikan hafalan 30 juz dari Al-Qur’an. Ia dikukuhkan sebagai hafidz (penghafal qur’an) termuda saat perlombaan tahfidz internasional di Arab Saudi tahun 2014 kemarin.
Salah satu aspek dalam bakat adalah kemampuan kognisi serta intelegensi tinggi. Hafalan juga merupakan bagian dari intelegensi. Oleh karena itu, seorang anak yang sudah bisa hafal Al-Qur’an setebal ratusan halaman dikatakan sebagai anak berbakat. Tentunya bakat ini tidak langsung didapatkan seketika itu. Ada potensi pada anak kecil saat lahir yang diketahui oleh orang tuanya. Kemudian ada proses yang dijalani untuk mencapai bakat ini.
Qiro’ah
Qiro’ah juga kata berbahasa arab yang berasal dari kata dasar qoro’a yang mempunyai arti dasar membaca. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia membaca diartikan sebagai melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Namun qiro’ah  yang dimaksudkan bukan hanya sekedar membaca. Qiro’ah  secara singkat yaitu membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan kaidah lagu-lagu tertentu. Tidak semua orang bisa qiro’ah ini. karena itu seorang Qori’ dalam dunia Islam diberi penghargaan tinggi.  
Syamsuri Firdaus, seorang remaja berusia 16 tahun asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah qori internasional terbaik kategori anak-anak pada MTQ (Musaabaqoh Tilawatil Qur’an) tahun 2014. Bakat yang dimiliki oleh bocah yang baru besar ini adalah suaranya yang merdu dilantunkan dalam qiro’ah. Dalam membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan qiro’ah, ada banyak hal yang harus dikuasai dan dipersiapkan. Qiro’ah ini juga termasuk seni suara dalam membaca Al-Qur’an.
Kemampuan seni (termasuk seni suara) merupakan salah satu dari aspek  berbakat yang dibagi oleh Cohn yaitu : kemampuan intelektual, kemampuan aristik (seni) dan kemampuan sosial. Bakat qiro’ah dari Syamsuri Firdaus adalah salah satu contoh potensi bakat yang dikembangkan dengan maksimal yaitu seni suara.  
Doktor cilik Al-qur’an
Berikutnya yaitu Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i seorang bocah yang mendapatkan gelar  Doktor di Hijaz Collage Islamic University. Husein adalah doktor cilik yang hafal dan paham al-Qur’an. Ia mendapatkan gelar doktoral ketika baru berusia tujuh tahun. Gelar doktoral yang diterimanya bukan hanya karena hafal Al-Qur’an. tetapi juga mampu menerjemahkan arti dari setiap ayat ke dalam bahasa Persia, memahami makna ayat-ayat tersebut, dan bisa menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari. Bahkan, Husein mampu mengetahui dengan pasti di halaman berapa letak suatu ayat, dan di baris ke berapa, di kiri atau sebelah kanan halaman al-Qur’an, atau menyebutkan ayat-ayat dalam satu halaman secara terbalik, mulai dari  ayat terakhir samapai ke ayat pertama.Ia juga mampu  menafsirkan dan menerangkan ayat al-Qur’an dengan menggunakan ayat lainnya dan metode menerangkan makna al-Qur’an dengan metode isyarat tangan. Ini adalah sebuah contoh nyata komplesitas bakat dalam Al-Qur’an yang dimiliki oleh seorang anak berusia tujuha tahun.
Kemampuan verbal maupun isyarat, kemampuan intelektual, kemampuan bahasa dan kecakapan serta kreatifitas dalam ingatan adalah sebuah kompleksitas yang dikemukakan oleh para tokoh mengenai bakat. tentunya tak mudah didapatkan. Kemampuan yang beragam ini telah dilatih sejak kecil. Sejak berusia dua tahun, Husein telah belajar Al-Quran dan selesai menghafal 30 juz pada usia lima tahun kemudian mengembangkan ke-Al-Qur’an-annya hingga mencapai prestasi gemilangnya pada usia tujuh tahun. Jadi, pada intinya bakat tidak langsung muncul pada seorang anak namun harus terus diasah agar semakin meningkat.

Dari penjelasan-penjelasan yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an juga bisa membuat seorang anak berbakat sejak kecil. Setiap orang yang beragama Islam pasti punya potensi dan kesempatan untuk mendapatkan berbagai bakat dari Al-Qur’an, tinggal bagaimana ia mengembangkan potensi dan kesempatan tersebut dengan maksimal sehingga ia mendapatkan gelar “Berbakat dengan Al-Qur’an. Semoga kita umat Islam yang tetap berpegang teguh dengan Al-Qur’an bisa mendapatkan manfaat dan kesuksesan hidup dengan Al-Qur’an.

Sabtu, 16 Mei 2015

Tantangan Petualangan Demi Bulan Purnama




Sayangnya, orang-orang pintar yang akan dimintai Slamet telah wafat beberapa puluh tahun yang lalu. Akan tetapi mereka masih meninggalkan beberapa tulisan pustaka yang di dalamnya juga mengkaji tentang bulan purnama. Maka Slamet berusaha mencari tulisan-tulisan ‘keramat’ dari orang-orang pintar tersebut. Setahu Slamet, orang-orang pintar yang meninggalkan tulisan pustaka itu ada empat. Mereka adalah Ki Purnomo, Ki Sugeng, Ki Dalu dan Nyi Wulan.
Slamet ingin memperdalam pengetahuannya tentang bulan purnama. Ia memang suka dengan bulan purnama. Ia selalu menantikan bulan purnama datang. Ia ingin tahu lebih dalam dan memperkaya pengetahuannya tentang bulan purnama. Tentu Slamet tak bisa mencetuskan pemikirannya sendiri karena pengalamannya juga masih belum banyak. Ada beberapa orang pintar yang punya banyak pengetahuan dan pengalaman tentang bulan purnama. Slamet ingin menelaah bagaimana pengetahuan, pandangan ataupun pendapat orang-orang pintar mengenai bulan purnama. Slamet pun mulai melaksanakan rencananya.
Slamet mengawali petualangan dari tulisan Ki Purnomo. Tulisan Ki Purnomo berada di rumahnya yakni di kawasan hutan balik bukit yang sekarang ditinggali oleh putrinya. Slamet mendatangi tempat itu dengan berjalan kaki dua malam dua hari. Tulisan Ki Purnomo ada dalam lemari di kamarnya bersama istrinya. Slamet memohon izin untuk membaca dan mengkaji tulisan Ki Purnomo tersebut. Putri Ki Purnomo mengizinkannya tapi tidak untuk dibawa Slamet. Slamet menyetujui karena memang dia membutuhkan isi tulisan itu kemudian dikaji dan apa yang dipahami ditulis olehnya. Selama lima hari Slamet mengkaji tulisan Ki Purnomo dan ia mendapatkan pengetahuan yang dibutuhkan dari tulisan Ki Purnomo. Salmet kemudian menuangkan pemahamannya dalam tulisannya sendiri. Tak lupa Slamet mencantumkan  bahwa pengetahuannya yang ini adalah yang didapat dari tulisan Ki Purnomo.
Slamet lalu melanjutkan ke utara menuju kediaman Ki Sugeng. Slamet menghabiskan sehari dua malam perjalanan dengan berjalan setapak ke atas bukit. Ternyata tempat yang dimaksud bukan lagi kediaman Ki Sugeng melainkan gubuk yang masih kokoh. Gubuk tersebut dirawat dan dilindungi oleh warga sekitar. Tempat itu dianggap sangat berarti karena warga sekitar menganggap Ki Sugeng bukanlah orang biasa. Ki Sugeng termasuk salah seorang pembabat alas desa itu. Mereka memberi pengahargaan kepada Ki Sugeng dengan membuatkan gubuk yang tak jauh dari makamnya. Di dalam gubuk yang terawat tersebut ada kumpulan tulisan-tulisan Ki Sugeng yang disimpan dalam peti. Setelah mendapat izin dari warga sekitar, Slamet membaca dan mengkaji tulisan-tulisan Ki Sugeng tentang bulan purnama. Hasil pemahaman yang didapat dari kajiannya selama dua hari dua malam, bahwa bulan purnama itu merupakan puncak penerangan yang melindungi para manusia dari gelapnya malam. Adapun menurut Ki Purnomo, bulan purnama adalah kesempurnaan tenangnya jiwa bagi yang mengahayati keberadaannya.
Sebelas malam sebelas hari telah lewat dalam petualangan Slamet untuk memperdalam pengetahuannya tentang bulan purnama. Kini ia berjalan menuju Ki Dalu yang berada di desa dekat air terjun.  Slamet turun bukit sejak matahari terbit dan sampai di tempat yang di maksud saat matahari akan tenggelam. Ia menginap di rumah cucu Ki Dalu yang berada di dekat air terjun. Esoknya, ia dipersilahkan oleh cucunya untuk mempelajari dan memahami tulisan-tulisan Ki Dalu tentang bulan purnama. Tulisan Ki Dalu lumayan tebal, namun tak setebal tulisan Ki Purnomo. Slamet menghabiskan empat malam untuk mempelajari tulisan Ki Dalu tentang bulan purnama. Yang diperoleh Slamet dari pemikiran Ki Dalu yaitu bulan purnama adalah pesona terindah yang dirajut oleh langit malam berhias bintang-bintang berhembus angin malam yang tenang.
Slamet bersyukur, tinggal satu target lagi untuk memuaskan dahaga penasaran dalam dirinya. Satu tantangan terakhir yaitu menuju Nyi Wulan yang peninggalan-peninggalannya disimpan di dalam bangunan batu mirip candi kecil yang dijaga oleh seorang petapa sejak dulu. Slamet bersemangat menuruni bukit dan mengucapkan sampai jumpa kepada air terjun dengan mentari hangat mengantarkan langkah kakinya. Semangat Slamet semakin memuncak walau perjalanannya semakin menurun dan beban yang dibawanya semakin berat. Karena memang seperti itulah tantangan petualangan.

Senin, 02 Maret 2015

Kebenaran Ikan di Lautan




Ki Kamto yang pertama bercerita. Ia menceritakan apa yang ia dapat dari lautan selama ini. Ia bukan mendapat ikan seperti halnya para nelayan, akan tetapi akan ia menceritakan tentang sejauh apa yang ia ketahui mengenai ikan yang ada di laut. Ia menceritakan tentang bagaimana wujud ikan di laut. “Ikan di laut itu berbentuk kecil dan berwarna cerah. Saya menjelajahi lautan hingga hampir mengitari lima pulau. Yang saya temukan, ikan-ikan di laut itu mempunyai bentuk kecil dan warnanya cerah” Ungkap Ki Kamto yang duduk di sebelah kanan pohon pinus itu.
Mentari pagi menjulang menmancarkan sinar cerah di bukit tinggi. Di ujung bukit itu ada sebuah tempat terbuka dengan tatanan batu yang tersusun alami. Tempat itu biasa dipakai perkumpulan atau pertemuan orang-orang hebat, para pengembara maupun para petualang. Kini ada dua orang petualang bertemu. Mereka berdua bertemu setelah selama tiga kali purnama berpetualang di lautan. Mereka bertemu untuk saling bertukar cerita tentang apa saja yang mereka dapat dari petualangannya di lautan. Mereka berdua  adalah Ki Kamto dan Ki Wabar.
Berbeda dengan Ki Kamto, cerita Ki Wabar tidaklah sama seperti yang dikemukakan oleh Ki Kamto. Menurutnya ikan di lautan itu bukan hanya berbentuk kecil dan berwarna cerah. “Dari pengalaman saya selama tiga kali purnama menjelajahi lautan, saya tidak hanya menemukan ikan laut itu berwarna cerah dan bentuknya kecil. Saya menemukan banyak ikan yang besar dan berwarna gelap. Saya ini mengitari hampir lima lautan pula. Saya awalnya memang menyangka kalau ikan laut itu kecil dan warnanya cerah. Tetapi ternyata tidak”. Balas cerita Ki Wabar yang ada di sisi kiri dengan mengelus-elus dagunya.
Mendengar cerita Ki Wabar, Ki Kamto ingin menunjukkan bukti bahwa cerita penjelahannya tentang ikan di laut adalah nyata dan benar. Ia mengambil bungkusan besar dari peti kayunya yang dibawa oleh anak buahnya dan membukanya kemudian memperlihatkan isinya pada Ki Wabar “Ini bukti bahwa ikan di laut adalah kecil dan berwarna cerah. Silahkan lihat di dalam peti kotak ini” Benar. Di dalam peti kayu yang basah tersebut ada banyak sekali ikan berwarna-warni dan hampir semuanya cerah. Ukuran ikan-ikan tersebut juga kecil persis seperti yang ia ceritakan.
Ki Wabar melihat apa yang ada di dalam peti Ki Kamto. Memang benar cerita Ki Kamto bahwa ikan di laut berukuran kecil dengan warna cerah. Namun Ki Wabar pun juga ingin membuktikan bahwa ceritanya tidaklah salah. Ia telah siap membawa ikan laut seperti yang diceritakannya. Ikan itu berada di dalam wadah kayu yang bisa diisi oleh dua orang berbaring sejajar. Di dalam wadah kayu yang ditarik oleh dua ekor kuda tersebut ada dua ikan empat ikan berukuran separuh dari panjang satu orang dewasa dan lebarnya hampir sama dengan ukuran lebar orang dewasa. Empat ikan itu berwarna coklat kehitam-hitaman. “LIhatlah, ini adalah bukti petualanganku dan bukti kalau ceritaku tidak salah” Ki Kamto pun melihatnya dan memang benar seperti yang diceritakan oleh Ki Wabar.
Ki Ageng yang sejak awal duduk manis mendengarkan cerita mereka berdua dan menyaksikan bukti masing-masing dari hasil petualangan di lautan selama tiga kali purnama, akhirnya mengeluarkan suaranya yang serak berat untuk mengambil kesimpulan “Jadi sekarang ada dua kebenaran tentang ikan di lautan”.

Jumat, 30 Januari 2015

Apa yang Menyebabkan Target Ini Tidak Terlaksana Semua ?




Slamet akan pulang setelah sholat Jum’at. Mungkin itu target utamanya hari Jum’at ini. Ia beberapa kali sebelumnya ditelpon oleh ibunya agar pulang. Sedangkan target keduanya adalah mengisi kursus bahasa Arab adek kelasnya. Slamet sedang  berada di tempat tinggal temannya karena pagi tadi mulai pukul tujuh hingga pukul sebelas ada acara di organisasinya. Maka ia bersiap-siap sebelum sholat Jum’at karena ia ingin langsung pulang setelah sholat Jum’at tanpa makan siang terlebih dahulu. Tentu, makanan masakan ibu lebih nikmat. Dan memang ibunya selalu masak untuk anaknya ketika anaknya pulang ke rumah.Sekitar lima belas menit berselang, adzan berkumandang. Maka ia berangkat menuju masjid untuk melaksanakan sholat Jum’at.
Setelah sholat Jum’at ia mengirim pesan via SMS kepada temannya yang mengajaknya bermain futsal. Namun tak ada balasan. Ia masih ragu apakah futsal ini jadi atau tidak ?. Jika jadi, ia tidak pulang ke rumah tetapi ia langsung menuju tempat kursus setelah bermain futsal yaitu pukul delapan malam. Futsal sebelumnya dimulai pukul delapan. Namun Slamet meminta dimulai lebih awal agar ia bisa ikut bermain futsal dan tidak meninggalkan jadwal kursusnya. Jadi walaupun target pertama tidak terlaksana, target kedua bisa ia usahakan.
Slamet lapar dan kebetulan temannya mengajaknya makan. Ia pun menuruti ajakannya karena mungkin saja ketika makan SMSnya tentang kepastian futsal dibalas. Saat akan berangkat makan, Slamte teringat jaketnya ada yang kebesaran. Ia ingin mengecilkan ukurannya. Ia menawari temannya juga apakah mau mengantarkannya mengecilkan ukuran jaket. Temannya menyetujui tawarannya. Maka berangkatlah mereka berdua untuk mengecilkan jaket kemudian makan siang.
Ketika mengecilkan jaket, Slamet mengira permintaan jaket tersebut bisa ditinggal terlebih dahulu. Barangkali si penjahit masih sibuk dengan banyaknya pesanan. Ternyata si penjahit  menangani langsung jaket Slamet dan menyuruhnya untuk menunggu. Sekitar satu jam lebih jaket itu dikerjakan. Kemudian mereka berdua makan siang bersama di warung dekat kampusnya.  Setengah tiga siang mereka berdua selesai makan siang. Setelah sampai kembali di kamar kos temannya, ia menyambungkan charger HP untuk mengisi daya karena HP-nya lowbatt. Slamet menunggu pengisian daya baterai HP sambil tidur-tiduran. Tak terasa Slamet ketiduran sampai jam setengah enam dan belum sholat ashar. Ia terbangun tapi kepalanya pusing. Setelah sholat ia kemudian merebahkan diri di atas kasur hingga maghrib.
Setelah maghrib ternyata turun hujan. Slamet menunggu hujan lumayan reda sampai jam tujuh. Jam tujuh  seharusnya ia berangkat bermain futsal. Tapi ia tetap berada di dalam kamar. Ia berada di dalam kamar  sampai jam delapan. Seharusnya jam delapan ia ada janjii untuk mengisi kursus bahasa Arab. Namun, ia batalkan dengan alasan hujan masih belum reda. Ia tetap di kamar kos temannya tanpa ada kegiatan berarti. Hingga malam berlalu Slamet tetap berada di kos temannya.
Di atas kasur, ia bergumam “Batal semua target dan deadline. Target pertama pulang, gagal. Target kedua mengisi kursus, gagal. Ajakan futsal juga gagal. Aku mengecewakan banyak orang. Keluargaku yang ada di rumah, adek-adek kelasku yang membutuhkan ilmu dalam kursus, serta teman-teman yang mengajak futsal dan aku mengecewakan mereka padahal aku yang meminta waktunya dimajukan”. Sebenarnya, apa yang menyebabkan target-target ini tidak terlaksana semua ?

Sabtu, 10 Januari 2015

Tantang Film dan Game Anda dengan Membaca Al-qur’an


...وارزقنا تلاوته أناء اليل و أطراف النهار..   (Anugerahilah kami untuk senantiasa membacanya (al-qur’an) sepanjang malam dan siang). Potongan doa tersebut mungkin cukup memotivasi kita agar terus membaca al-qur’an. Selama ini berapa lama dalam sehari kita mengaji (membaca) alqur’an ?. Kapan kita membaca al-qur’an ? Apakah setiap hari ? jika iya, berapa lama dalam sehari ? Atau jika tidak setiap hari, dalam seminggu berapa kali kita membaca al-qur’an ? Tentu ada jawaban berbeda dari setiap orang, selain ada kesamaan antara individu satu dengan lainnya.
Apakah membaca al-qur’an itu membosankan bahkan melelahkan ? Bagi anda yang menjawab ‘iya’, mungkin anda belum terbiasa atau bahkan belum menikmati bacaan al-qur’an. Bagi para remaja yang suka nonton film, berapa lama anda kuat menonton film kesayangan anda ? Dua jam mungkin ? Atau lebih dari dua jam ? Wajar, jika anda sangat gemar dengan film tersebut atau film yang anda tonton adalah film kesayangan anda. Bagi anda yang suka nge-game, berapa lama anda kuat bermain game ? Apalagi itu adalah game kesayangan anda ? Dua jam pula ? Atau lebih ? Atau bahkan hingga semalam suntuk ? Itu juga wajar karena anda suka nge-game dan game itu adalah game kesayangan anda.
Bagaimana jika waktu tersebut kita gunakan untuk membaca al-qur’an ? Jika belum terbiasa mengaji, mungkin membaca al-qur’an adalah hal biasa yang membosankan bahkan melelahkan. Karena kita hanya duduk, membaca dan membaca. Mungkin anda yang merasa bosan membaca al-qur’an perlu menyetel ulang bagaimana membaca al-qur’an itu. Perlu juga anda membangun kembali anggapan bahwa membaca al-qur’an itu tidaklah membosankan. Jika waktu selama dua jam, tiga jam atau lebih dari tiga jam kita gunakan untuk membaca al-qur’an, apakah itu melelahkan ? Jawabannya mungkin memang melelahkan.
Coba kita bandingkan, apakah setelah menonton film kesayangan anda merasa lelah atau capek ? Jika jawaban anda ‘iya’, sama halnya dengan membaca al-qur’an. Namun, berbeda sensasi setelah menonton film dengan membaca al-qur’an-kalau belum terbiasa-. Kalau belum terbiasa, rasa lelah tersebut sangat terasa dan membaca al-qur’an terasa berat. Berbeda halnya dengan menonton film atau bermain game. Saat selesai menonton film kesayangan atau bermain game, anda mungkin merasa senang dan lega. Yang menjadikan anda merasa lelah tapi juga merasa lega setelah selesai adalah kerena film yang anda tonton atau game yang anda mainkan adalah hal yang mengasyikkan dan menyenangkan bagi anda. Bagaimana jika ‘mengasyikkan dan menyenangkan’ tersebut diterapkan dalam membaca al-qur’an ? Silahkan dicoba.
Maksud penerapan ini bukan secara serta merta anda harus meniadakan hal yang ‘mengasyikkan dan menyenangkan’ sebelumnya. Jika anda masih senang dan gemar dengan nonton film dan main game, tantang diri anda untuk memberikan porsi yang sama dalam membaca al-qur’an. Jika anda bisa menonton film atau bermain game selama dua jam, tantang diri anda agar bisa membaca al-qur’an selama itu. Jika dirasa terlalu berat, bandingkan setengahnya yaitu satu jam. Jika dirasa berat, bandingkan seperempatnya yaitu setengah jam. Jika masih dirasa berat, bandingkan seperdelapannya yaitu seperempat jam. Jika masih saja berat, sepuluh menit bahkan lima menit dalam sehari bacalah al-qur’an atau biasakan membaca al-qur’an.
Setelah anda terbiasa membaca al-qur’an selama lima menit dalam sehari, tingkatkanlah kebiasaan anda menjadi sepuluh menit. Setelah anda merasa biasa membaca al-qur’an selama sepuluh menit dalam sehari, tingkatkan menjadi lima belas menit atau seperempat jam dalam sehari untuk membaca al-qur’an. Jika anda punya banyak kegiatan atau kegiatan anda dalam sehari sangat padat, pisahkanlah waktu membaca al-qur’an anda. Anda bisa membacanya tiga kali sehari, setiap satu kali waktunya lima menit. Jadi total lima belas menit dalam sehari bisa anda dapatkan. Setelah anda terbiasa membaca al-qur’an selama durasi waktu tersebut, anda bisa meningkatkan waktu total membaca al-qur’an dalam sehari menjadi setengah jam hingga dua jam. Jika anda punya banyak kegiatan atau kegiatan anda dalam sehari sangat padat, sisihkanlah untuk membaca al-qur’an dan bagilah dalam waktu total tersebut selama beberapa kali, bisa dua, tiga atau lima kali yaitu setiap selesai sholat.
Jika anda bisa terbiasa melaksanakan rancangan aktivitas rutin diatas dan menikmati kegiatan tersebut, maka akan muncul kesan dan anggapan dalam diri anda yaitu ‘membaca al-qur’an itu mengasyikkan dan menyenangkan’. Tentunya tidak hanya cara seperti ini saja yang menjadikan kita membuang jauh-jauh anggapan ‘membaca al-qur’an itu membocankan dan melelahkan’. Ada berbagai cara yang dapat mewarnai diri anda dengan bermacam-macam corak untuk menumbuhkan cinta kita pada al-qur’an. Ini adalah salah satu corak warna bibit cinta qur’an. Jika anda tidak percaya dengan cara ini, segera cobalah minimal selama satu bulan atau empat puluh hari. Semoga anda tidak percaya.

Semoga celoteh kecil ini bisa bermanfaat








Minggu, 21 Desember 2014

Anggapan yang Perlu Dibenarkan dalam Bimbingan Konseling di Sekolah



Pendahuluan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia konseling ialah: 1.pemberian bimbingan oleh yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis dan sebagainya; 2.pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap kemampuan diri sendiri meningkat dalam memecahkan berbagai masalah. Sedangkan bimbingan konseling adalah layanan bantuan untuk peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar maupun karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995).
Bimbingan Konseling (BK) merupakan salah satu komponen dalam keseluruhan sistem pendidikan di sekolah. Siswa, guru, orang tua atau wali murid dan warga masyarakat masih banyak yang belum mengetahui dan memahami BK di sekolah. Banyak anggapan yang ditujukan terhadap BK di sekolah. Mereka memiliki persepsi yang berbeda-beda. Ada yang menafsirkan BK adalah tempat  menyelesaikan masalah, tempat pemberian hukuman. Ada pula yang menganggap bahwa BK merupakan tempat yang menyeramkan dan menakutkan, karena guru BKnya galak, garang, sadis, bahkan bertindak kekerasan secara fisik. Sehingga  hal tersebut meniimbulkan kesan  bahwa  guru  BK  adalah polisi  sekolah.
Sebagai contoh, siswa yang datang terlambat ke sekolah atau melanggar tata tertib sekolah, kemudian dipanggil ke ruang BK untuk menghadap konselor, maka siswa tersebut akan memiliki pandangan atau anggapan bahwa konselor sekolah adalah sosok orang yang galak, yang biasanya hanya menghukum dan mengatur para siswanya.
Persepsi siswa terhadap konselor terjadi karena siswa tersebut memperhatikan sesuatu yang nampak pada diri konselor yang meliputi penampilan fisik, perilaku dan juga ruang lingkup kerja (tugas) konselor. Jika penampilan fisik, perilaku dan ruang lingkup kerja konselor tidak seperti apa yang diharapkan oleh siswa, maka siswa akan berpersepsi kurang baik (negatif) terhadap konselor. Informasi yang diperoleh menunjukkan bahwa masih ditemukan siswa yang menganggap konselor adalah seorang guru yang galak, tidak bias diajak bercanda, bahkan konselor disebut polisi sekolah yang bisanya hanya memarahi dan menghukum siswa-siswa yang melanggar tata tertib sekolah. Sehingga apabila ada siswa yang datang menghadap konselor, maka siswa tersebut diyakini mempunyai masalah pelanggaran atau telah berbuat suatu kesalahan.
Anggapan-anggapan yang seperti ini pada dasarnya adalah salah. Anggapan yang salah ini bisa saja disebabkan dari para siswa atau mungkin dari para guru khususnya gur BK itu sendiri. Oleh karena itu anggapan-anggapan seperti ini perlu dibenarkan sebagaimana mestinya agar maksud, peran, fungsi dan tujuan bisa terealisasi secara optimal.

Pembahasan
Mempersepsi tidaklah sama dengan memandang benda dan kejadian tanpa makna. Yang dipersepsi seseorang selalu merupakan ekspresi-ekspresi, benda-benda dengan fungsinya, tanda-tanda serta kejadian-kejadian. Leavitt  berpendapat bahwa “persepsi merupakan pandangan atau bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu” (Sobur, 2003). Persepsi berasal dari sudut pandang yang berbeda-beda tergantung subjek yang mempersepsi. Kadang persepsi seseorang terhadap sesuatu bisa benar dan sesuai dengan realit dan kadang pula perspsi itu tidak sesuai dan menjadi persepsi yang salah karena tidak sesuai dengan maksud dan tujuan tertentu, walaupun subjek yang memperspsi itu menyatakan apa yang menjadi persepsinya dalah benar.
Ada beberapa anggapan yang perlu dibenarkan mengenai Bimbingan Konseling di sekolah, baik dari siswa maupun dari para guru. Berikut beberapa penjelasannya:
1.      Siswa yang bermasalah saja yang didatangkan kepada guru BK. Sering kali hanya siswa yang mempunyai masalah dengan peraturan sekolah yang menjadi bulan-bulanan guru BK. Ketika ada suatu pelanggaran yang dilakukan oleh siswa, maka siswa yang bersangkutan langsung dihukum oleh BK dan jika ia mengulanginya maka ia akan menjadi langganan guru BK. Yang menjadi pertanyaan ialah, mengapa hanya siswa yang mempunyai kasus dengan peraturan saja ?. bukankah masalah siswa itu tidak hanya itu saja ? Ada masalah lain yang bisa mengganggu siswa.
2.      Guru BK adalah momok bagi siswa. Guru BK yang selama ini dianggap sebagai orang yang selalu memberikan hukuman, poin pelanggaran hingga skors yang pantas bagi siswa yang bermasalah. Para siswa menjadi takut terhadap guru BK. Berurusan dengan guru BK sama halnya bertemu hantu. Berurusan dengan guru BK adalah mimpi buruk setiap siswa. Apakah fungsi BK di sekolah adalah menakut-nakuti ? Apakah fungsi guru BK hanya menghukum siswa ? Penting untuk mengerti dan memahami fungsi Bimbingan Konseling di sekolah.
3.      Para siswa tidak mau mengerti dan memahami tentang apa sebenarnya BK dan seberapa perlu BK di sekolah. Para siswa ketika diberikan sosialisaasi masalah Bimbingan Konseling kurang bisa memahami tentang BK di sekolah. Mereka mendapat informasi-informasi negatif  yang telah lalu dan membudaya di kalangan siswa. Sebelum adanya sosialisasi itu pun mereka sudah mempunyai anggapan negatif terhadap guru BK. Anggapan yang membudaya ini perlu untuk diluruskan. Akan tetapi, mungkin juga dari para guru yang ketika memberikan sosialisasi membuat acara itu biasa-biasa saja ? Atau mungkin guru BK saat sosialisasi dan publikasi tampil dengan gaya yang kurang familiar dan kurang komunikatif ?
4.      Tampilan yang kurang familiar. Tampilan guru BK mungkin selama ini monoton seperti itu saja. Bahkan, bebrapa guru BK di sekolah tampilannya memang menakutkan bagi para siswa. Tampilan disini maksudnya ialah tampilan secara fisik maupun psikis. Guru BK di sekolah tampil dengan penuh menjaga kewibawaan terhadap para siswa. Kewibawaan memang perlu, namun alangkah baiknya jika kewibawaan itu tidak menjadikan jarak yang semakin jauh dengan para siswa. Sehingga para siswa juga enggan untuk berkomunikasi. Tampilan yang kurang ramah juga menjadikan guru BK ditakuti oleh para siswa. Senyum kecil dapat menjadi sebab baiknya hubungan. Bahkan jika seorang guru BK di sekolah ketika bertemu hanya menampilkan wajah dingin tanpa ekspresi yang komunikatif, tentu siswa menjadi tidak suka dengan guru BK.
5.      Publikasi yang komunikatif dan menarik. Publikasi ini bisa juga disebut soialisasi Bimbingan Konseling. Hal yang sering terjadi ialah sosialisasi ini dilaksanakan hanya satu kali setahun, bahkan satu kali pada awal masuk sekolah di jenjang yang bersangkutan. Sosialisasi itu hanya berisi pemberitahuan saja tanpa mengajak audien untuk bertanya ataupun sedikit berdiskusi masalah Bimbingan Konseling. Hal yang jarang terjadi dan kurang mengena di ingatan tentu tidak akan membuat sebuah kesan. Para siswa secara otomatis atau perlahan akan lupa dengan poin-poin pada sosialisasi BK tersebut dan tidak mengiraukan terhadap batasan-batasan yang telah disampaikan pada saat sosialisasi BK.
Beberapa hal yang telah dijelaskan tersebut mungkin akan lebih baik jika bisa diatasi. Ada poin-poin penting yang bisa membantu menyelaraskan para siswa dan guru BK agar anggapan yang salah ini bisa dibenarkan, yakni sebagai berikut:
1.      Bukan hanya siswa yang bermasalah saja yang  datang atau didatangkan  kepada BK. Bimbingan Konseling ini bukan bengkel bagi para siswa yang ‘rusak’. Konseling juga membantu menyelesaikan masalah-masalah lain pada siswa seperti masalah hubungan dengan teman, hubungan dengan guru yang lain, hingga masalah pribadi yang menghambat lancarnya proses pembelajaran di sekolah. Hartono dan Soedarmadji (2012) mengemukakan ada lima fungsi konseling yaitu: a.fungsi pemahaman; b.fungsi pencegahan; c.fungsi pengentasan; d.fungsi pemeliharaan; e.fungsi advokasi. Seharusnya kelima fungsi tersebut bisa dijalankan secara maksimal sehingga fungsi Bimbingan Konseling di sekolah sesuai dengan fungsi pokok konseling. Dengan itu, proses konseling bisa merata terhadap para siswa dari setiap kalangan.
2.      Anggapan bahwa guru BK itu adalah momok, tukang hukum, musuhnya siswa nakal, dan sebagainya merupakan anggapan yang kurang benar. Para siswa perlu memahami bahwa seorang guru BK itu adalah orang yang membantu siswa untuk mengatasi masalah-masalah para siswa, dari yang sederhana hingga yang serius atau komplek. Para siswa yang tidak nakal pun bisa mengunjungi guru BK untuk sekedar bercerita tentang masalah psikologis apa pun yang dihadapinya. Guru BK juga bisa membantu menangani masalah seorang siswa yang walaupun keilhatannya biasa saja namun menjadikannya terhambat seperti masalah kebiasaan belajar hingga larut malam, atau bahkan ia bermasalah dengan keluarganya dan hal itu mengganggu proses pembelajaran di sekolah. Guru BK selalu siap untuk membantu para siswa menangani masalah psikologis yang dihadapi.
3.      Pemahaman yang tepat mengenai  makna Bimbingan Konseling di sekolah. Seperti yang telah disampaikan pada poin sebelumnya bahawa guru BK siap untuk membantu menangani masalah psikologis yang dihadapi para siswa. Proses konseling di sekolah pada intinya adalah membantu menangani masalah psikologis para siswa. Masalah psikologis yang dimaksud ialah segala hal yang menjadikan kondisi mental para siswa tidak tenang seperti trauma, stress, konflik, frustasi hingga depresi. Kenakalan para siswa tentunya menjadi objek konseling guru BK. Kenakalan para siswa bisa saja terjadi disebabkan oleh beberapa hal tersebut dari berbagai latar belakang yang berbeda. Maka perlu pemahaman yang tepat mengenai makna Bimbingan Konseling di sekolah agar para siswa bisa mendapat bantuan dalam menangani masalah psikologisnya dan proses pembelajran di sekolah bisa berjalan maksimal.
4.      Memberikan penampilan yang menarik, sesuai dan sebisa mungkin untuk familiar dengan para siswa dan guru. Seorang guru BK adalah guru yang selayakanya bisa berinteraksi dengan siswa maupun guru dan karyawan di sekolah. Lebih baik jika seorang guru BK itu komunikatif dan interaktif, aktif berinteraksi dengan para siswa. Karena hal itu bisa menjadikan anggapan negatif terhadap guru BK berkurang. Seorang guru BK seharusnya tidak terlalu membatasi hubungan antara guru dan siswa. Guru sebgai penerima aspirasi siswa dan para siswa berhak menyampaikan aspirasinya. Para siswa juga berhak menceritakan masalah-masalah yang menghambat proses pembelajarannya di sekolah, sehingga guru mengerti mengapa ia mengalami masalah dan apa yang menyebabkan masalah itu di sekolah. Jika guru BK lebih familiar, komunikatif, dan aktif berinteraksi dengan para siswa maka proses konseling bisa maksimal dan berjalan lancar.
5.      Publikasi tentang Bimbingan Konseling kepada para siswa sejak awal dan publikasi rutin untuk tetap menyampaikan program-program BK. Publikasi yang dimaksud ialah pemberitahuan atau sosialisasi kepada para siswa terkait program Bimbingan Konseling di sekolah. Publikasi atau sosialisasi ini tidak cukup hanya dilakukan di awal tahun atau awal masuk sekolah. Ada baiknya jika penjelasan dan sosialisai program BK dilaksanakan setiap tiga bulan sekali, atau mungkin sebulan sekali. Hal litu ditujukan untuk memaksimalkan efektifitas konseling Bimbingan Konseling di sekolah. Jika publikasi berjalan maksimal, maka para siswa sedikit kemungkinannya untuk tidak memahami tentang BK di sekolah. Para siswa tidak akan merasa BK adalah momok dan sebagainya. Mereka akan mulai akrab dengan Bimbingan Konseling.
Jika beberapa hal yang telah dijelaskan dapat dilaksanakan dengan maksimal, maka anggapan negatif atau anggapan salah yang perlu dibenarkan bisa terealisasi dan Bimbingan Konseling di sekolah bisa maksimal, efektif, dan merata terhadap semua kalangan siswa.

Kesimpulan
Dari pemaparan atau penjelasan yang disebutkan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1.      Anggapan yang salah mengenai BK di sekolah mencakup kenakalan siswa, peran dan fungsi guru BK dan pemahaman tentang Bk di sekolah
2.      Perlu adanya pemahaman bersama antara siswa dan guru mengenai BK di sekolah dan perlu adanya sosialisasi yang rutin agar BK bisa terlaksana secara maksimal dan menyeluruh.
3.      Interaksi yang tepat dan tidak terlalu membatasi antara guru BK dan para siswa akan membantu memaksimalkan BK di sekolah, karena setiap siswa tentu punya masalah psikologis masing-masing yang berbeda

Daftar pustaka
Chaplin, J.P. ( 2005). Kamus Lengkap Psikologi (penerjDr.Kartini Kartono). Jakarta: Raja Grafindo.
Penyusun, Tim (1988). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Hartono &Soedarmadji. (2012). Psikologi Konseling. Jakarta:Kencana
Sobur, Alex. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia